Malam Pertama

Sabtu, 20 Februari 2010 16.47 by juliastuti.blogspot.com 1 komentar
"..Saya terima nikahnya..",
Masih terbayang dalam ingatanku perasaan bahagia dan lega saat selesai mengucapkan ijab kabul di muka penghulu tadi pagi. Bahagia karena berhasil menyunting gadis yang kucintai, lega karena telah berhasil melewati cobaan dan rintangan yang sangat berat selama hampir sepuluh tahun hubungan kami.


Wangi melati harum semerbak sampai ke setiap sudut kamar pengantin yang dihias berwarna dominan merah jambu. Dan, di sisiku terbaring gadis yang amat sangat kucintai, berbalut daster tipis yang juga berwarna merah jambu. Matanya yang indah dan bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi halus dan mulus. Dia, yang kukenal saat sama-sama duduk di bangku kuliah, yang menjadi incaran para pemuda di kampus, sekarang telah resmi menjadi istriku.

Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang kami rasakan dan alami selama berpacaran. Masa pacaran kami memang tidak terlalu "bersih", saling cium, saling raba bahkan sampai ke tingkat Heavy Petting sering kami lakukan. Tapi, dengan penuh rasa sayang dan tanggungjawab, aku berhasil mempertahankan kesuciannya sampai saat ini. Aku bangga akan hal itu.

Suasana yang romantis ditambah dengan sejuknya hembusan AC sungguh membangkitkan nafsu. Kupeluk dia, kukecup keningnya lalu kuajak dia untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan mertua laki-lakiku tadi. Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia dari godaan setan yang terkutuk.
Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang cukup besar. Sungguh pintar dia ini memilih daster yang berkancing di depan dan hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.

Sementara itu, dia juga telah berhasil membuka kancing piyamaku, melepas singlet dan juga celana panjangku. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dia tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat mencintaiku. Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. dia mulai mendesah dan meracau tidak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang. Tanganku mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Aku tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora.

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, membuat kemaluanku yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tidak terlalu lebat tapi terawat teratur. Sementara dia rupanya sudah tidak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran dan konsentrasiku tidak lagi terpecah.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh dia mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya.

Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik,
"Ohh, nikmat sekali. terima kasih sayang."
Aku tidak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah. Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, dan sesekali kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya aku dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk menunaikan tugasku sebagai suami. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. dia merintih keras, dan karena mungkin kesakitan, tangannya mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Aku tidak tega, aku kasihan! Kupeluk dan kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.

Setelah beristirahat beberapa lama, kucoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Aku sangat mencintainya sehingga aku tidak tega untuk menyakitinya.
Malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Dia meminta maaf, dan dengan tulus dan penuh kerelaan dia kumaafkan. Malam itu kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang saja susah, agak tidak masuk diakal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga?

Malam Kedua.
Jam 10 malam kami berdua masuk kamar bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan olok-olok Saudara-Saudara Iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran-sindiran yang mengarah dari mulut Saudara-Saudara Iparku, kutanggapi dengan senang dan bahagia.
Siang tadi, kami berdua membeli buku mengenai Seks dan Perkawinan, yang di dalamnya terdapat gambar anatomi tubuh pria dan wanita. Sambil berpelukan bersandar di tempat tidur, kami baca buku itu halaman demi halaman, terutama yang berkaitan dengan hubungan Seks. Sampai pada halaman mengenai Anatomi, kami sepakat untuk membuka baju masing-masing. Giliran pertama, dia membandingkan kemaluanku dengan gambar yang ada di buku. Walau belum disentuh, kemaluanku sudah menggembung besar dan keras. dia mengelus dan membolak balik "benda" itu sambil memperhatikannya dengan seksama. Hampir saja dia memasukkan dan mengulumnya karena tidak tahan dan gemas, tapi kutahan dan kularang. Aku belum mendapat giliran.

Kemudian, kuminta dia berbaring telentang di tempat tidur, menarik lututnya sambil sedikit mengangkang. Mulanya dia tidak mau dan malu, tapi setelah kucium mesra, akhirnya menyerah. Aku mengambil posisi telungkup di bawahnya, muka dan mataku persis di atas vaginanya. Terlihat bagian dalamnya yang merah darah, sungguh merangsang. Dengan dua jari, kubuka dan kuperhatikan bagian-bagiannya. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat kemaluan seorang wanita dengan jelas. Walaupun sering melakukan oral, tapi belum pernah melihat apalagi memerhatikannya karena selalu kulakukan dengan mata tertutup. Aku baru tahu bahwa klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kujaga utuh selama 10 tahun. Jauh dari bayanganku selama ini. Selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan lainnya, merah darah. Ditengahnya ada lubang kecil. Sayang aku tidak ingat lagi, seperti apa bentuk lubang tersebut.

Tidak tahan berlama-lama, segera kulempar buku itu ke lantai, dan mulai kuciumi kemaluan dia itu. Kumainkan klitorisnya dengan lidahku yang basah, hangat dan kasar, hingga membuat dia kembali mengejang, merintih dan mendesah. Kedua kakinya menjepit kepalaku dengan erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi. Kupilin, kusedot, dan kumain-mainkan benda kecil itu dengan lidah dan mulutku. Berdasarkan teori-teori yang kuperoleh dari Buku, Majalah maupun VCD Porno, salah satu pemicu orgasme wanita adalah klitorisnya. Inilah saatnya aku mempraktekkan apa yang selama ini hanya jadi teori semata.

Dia semakin liar, bahkan sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat. Dia lalu menarik pinggulku, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepalaku berada di depan kemaluannya, sementara dia dengan rakusnya telah melahap dan mengulum kemaluanku yang sudah sangat keras dan besar. Nikmat tiada tara. Tapi, aku kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta dia telentang di tempat tidur, aku naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan dan elusan lidahnya yang hangat dan kasar itu. Apalagi bila dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.

Karena hampir tidak tertahankan lagi, aku segera mengubah posisi. Muka kami berhadapan, kembali kutatap matanya yang sangat indah itu. Kubisikkan bahwa aku sangat menyayanginya, dan aku juga bertanya apakah kira-kira dia akan tahan kali ini. Setelah mencium bibirku dengan gemas, dia memintaku untuk melakukannya pelan-pelan.

Kutuntun kemaluanku menuju vaginanya. Berdasarkan gambar dan apa yang telah kuperhatikan tadi, aku tahu di mana kira-kira letak Liang Senggamanya. Kucium dia, sambil kuturunkan pinggulku pelan-pelan. Dia merintih tertahan, tapi kali ini tangannya tidak lagi mendorong bahuku. Kuangkat lagi pinggulku sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala, kutahu bahwa dia juga sangat menginginkannya. Setelah kuminta dia untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti kutekan pinggulku, kumasukkan kemaluanku itu sedikit demi sedikit. Kepalanya terangkat ke atas menahan sakit. Kuhentikan usahaku, sambil kutatap lagi matanya. Ada titik air mata di sudut matanya, tetapi sambil tersenyum dia menganggukkan kepalanya. Kuangkat sedikit, kemudian dengan sedikit tekanan, kudorong dengan kuat. Dia mengerang keras sambil menggigit kuat bahuku. Kelak, bekas gigitan itu baru hilang setelah beberapa hari. Akhirnya, seluruh batang kemaluanku berhasil masuk ke dalam lubang vagina dia tercinta. Aku bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasku. Kucium dia dengan mesra, dan kuseka butir air mata yang mengalir dari matanya. Dia membuka matanya, dan aku dapat melihat bahwa dibalik kesakitannya, dia juga sangat bahagia.

Perlahan kutarik kemaluanku keluar, kutekan lagi, kutarik lagi, begitu terus berulang-ulang. Setiap kutekan masuk, dia mendesah, dan kali ini, bukan lagi suara dari rasa sakit. Kurasa, dia sudah mulai dapat menikmatinya. Permukaan lembut dan hangat dalam liang itu seperti membelai dan mengurut kemaluanku. Rasa nikmat tiada tara, yang baru kali ini kurasakan. Aku memang belum pernah bersenggama dalam arti sesungguhnya sebelum ini. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepala dia mulai membanting ke kiri dan ke kanan, diiringi rintihan dan desahan yang membuat nafsuku semakin bergelora. Tangannya memeluk erat tubuhku, sambil sekali-sekali kukunya menancap di punggungku. Desakan demi desakan tidak tertahankan lagi, dan sambil menancapkan batang kemaluanku dalam-dalam, kusemburkan sperma sebanyak-banyaknya ke dalam rahim dia. Aku kalah kali ini.

Kupeluk dan kuciumi wajah dia yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih. Matanya yang bening indah menatapku bahagia, dan sambil tersenyum dia berkata, "sama-sama." Kutitipkan padanya untuk menjaga baik-baik anak kami, bila benih itu tumbuh nanti. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput dara dia cukup tebal, noda darahnya cukup banyak, hingga menembus ke kasur. Akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, aku berhasil membawa dia orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Aku yang sudah kehilangan banyak sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, sehingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat.

Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu seperti tidak pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam.Nafsu yang didasari oleh cinta, memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.
Baca Selengkapnya..

Gairah Majikan

Rabu, 17 Februari 2010 19.05 by juliastuti.blogspot.com 1 komentar
Kisah ini bermula ketika keluargaku baru saja ditinggal pergi oleh kedua orangtua kami, yang meninggal dalam musibah kecelakaan angkutan umum di daerah kami, sebuah kota sejuk di dekat Jakarta. Sebagai anak tertua, maka aku yang selama ini hanya kuliah tanpa harus memikirkan sumber biayanya, terpaksa harus menggantikan tugas orang tuaku mencari nafkah untuk menghidupi adik-adikku dan melanjutkan kuliahku. Aku tidak ingin cita-cita kedua mendiang orang tuaku untuk memiliki anak yang berhasil menjadi sarjana, menjadi gagal. Akan tetapi ternyata tidak mudah juga untuk mencari nafkah di kota ku ini.

Pada suatu malam, yakni Minggu malam, ketika aku sedang melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di perusahaan itu. Spontan aku menyetujuinya dan berterimakasih atas tawaran itu.

Esoknya kami berangkat ke rumah Boss-nya Pak RT ku. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, spontan aku dan pak RT berdiri memberi salam " selamat pagi". Pak RT dipersilakan kembali bekerja oleh wanita itu, dan diruangan yg megah itu hanya ada aku dan si wanita itu.

" Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? " tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.

" Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya " Jawabku.

" jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya " Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.

" Kamu sudah pernah bekerja jadi sopir pribadi sebelumnya ?"

" Tidak nyonya eh...Bu ?!" jawabku. " Saya tadinya masih kuliah, tapi saya pernah menjadi supir angkot tidak tetap selama satu tahun" sambungku. Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi salah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas sampai ke bawah.

" kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?" tanyanya.

" Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya, Bu " jawabku.

" Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus ready setiap saat. gimana, okey ? "

" Saya siap Bu." Jawabku.

" Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? "

" Saya siap Bu" Jawabku.

" Oh..ya, siapa namamu ? " Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.

" Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman " Jawabku.

" Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? " Tanyanya seperti bercanda.

" Tidak Bu " Jawabku.

" Leman itu artinya Lelaki Idaman " jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapat majikan seramah dan sesantai Ibu Maya. Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanikan diri untuk bertanya pada beliau.

" Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? "

" O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah…khayalan kamu itu berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? " Jawabnya serius.

Aku hanya meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok seperti orang pintar. Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak terlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya seperti gitar Spanyol. Yang lebih gila, pantatnya bahenol dan buah dadanya……, wah...wah...puyeng aku melihatnya.

Di rumah sebesar itu, hanya tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yakni Mira - anak kedua yang masih sekolah kelas II SMU, dan Yanti si bungsu yang masih duduk di kelas III SMP. Putri pertamanya saat ini sekolah mode di Perancis. Pembantunya hanya satu, yakni Bi Irah, seksinya juga luar biasa, janda pula!

Ibu Maya memberi gaji bulanan yang besar sekali, dan jika difikir-fikir, mustahil sekali. Selama satu tahun aku bekerja, sudah dua kali dia menaikkan gajiku. Katanya dia puas atas disiplin kerjaku. Gaji pokok bulananku saja lebih dari cukup untuk membayar uang kuliahku. Aku meneruskan mengambil kuliah di petang hingga malam hari di sebuah Universitas Swasta. Dengan satu bulan gaji saja, aku bisa membayar biaya kuliah empat semester, edan tenan, sekaligus enak tenan....!!! dasar rezeki, tak akan kemana larinya.

Masuk tahun kedua aku bekerja, keakraban dengan Ibu Maya semakin terasa. Setelah pulang Fitness, seringkali Bu Maya minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan, disebelahku, hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, eh...lama lama biasa.

Di suatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diantar keluar kota. Seperti biasa dia pindah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika kendaraan kami tengah berjalan di jalan raya yang tidak terlalu ramai, tiba-tiba Ibu Maya menyuruh berhenti sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan ada kesalahan yang aku perbuat.

" Man,?, kamu sudah punya pacar ? " Tanyanya.

" Belum Bu " Jawabku singkat.

" Sama sekali belum pernah pacaran ?"

" Belum BU, eh...kalau pacar cinta monyet sih pernah Bu, dulu di kampung sewaktu SMP"

" Berapa kali kamu pacaran Man ? sering atau cuma iseng ?" tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku masih memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam.

" Saya belum pernah pacaran serius Bu, cuma sebatas cintanya anak yang sedang pancaroba" Jawabku.

" Bagus...bagus...kalau begitu, kamu anak yang baik dan jujur " ujarnya puas sambil menepuk nepuk bahuku. Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu pribadi lagi ? apakah aku mau dijodohkan dengan salah seorang putrinya? ach....gak mungkin rasanya, mustahil, mana mungkin dia mau punya menantu anak kampung seprti aku ini? Setelah itu kami melanjutkan perjalanan bahkan sampai jalan-jalan di kota Sukabumi. Aku heran, Bu Maya kok tumben-tumbenan menyuruhku hanya untuk mengantarnya putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya masih memakai pakaian Fitness berupa celana training dan kaos olah raga, tanpa berganti pakaian seperti biasanya setelah selesai fitness. Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah mulai gelap dan kami meneruskan perjalanan untuk kembali ke kota kami. Ditengah perjalanan di jalan yang agak sepi dan gelap, Bu Maya minta untuk berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap.

Dit engah kebun itu Bu Maya minta aku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lenganku.

" Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?" pintanya.

Aku menurut saja, karena masih belum mengerti. Astaga....setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan kepala menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Maya menarik kaosnya ke atas. Wow...!! samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berkata " Cium Man Cium...isaplah, mainkan sayang ...?" Pintanya.

Baru aku mengerti, Bu Maya mengajak aku ketempat ini sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dan seksi seperti Bu Maya.

Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya terengah-engah tak karuan, menandakan nafsu birahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu bu Maya minta agar aku bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga ke bawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya tampak bugil. Tampak samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu.

" Jilat Man…… jilatlah…… aku nafsu sekali…… jilat sayang " Pinta Bu Maya agar aku menjilati m*m*knya. Oh....m*m*k itu besar sekali, menjendol seperti kura-kura. tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, seperti sudah terhipnotis. M*m*k Bu Maya wangi sekali, mungkin sewaktu di rumah makan tadi dia sempat membersihkan kelaminnya dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang lumayan lama. Mungkin disana dia membersihkan diri. Dia tadi ke tolilet membawa serta tas pribadinya. Mungkin disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya aku keluar mobil dan disusul olehnya. Bu Maya membuka bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan di atas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya.

" Ayo Man, lakukan…… hanya ada kita berdua disini…… jangan sia-siakan kesempatan ini Man…… aku sayang kamu Man " katanya setengah berbisik, Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya. Dipeluknya aku, dirogohnya kejantananku dan dimasukkan ke dalam m*m*knya yang hangat. Kami bersetubuh di tengah kebun gelap itu dalam suasana malam yg remang-remang oleh sinar bulan di langit. Aku menggenjot m*m*k Bu Maya sekuat mungkin.

" jangan keluar duluan ya, Man…? saya belum puas " Pintanya mesra. Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis keluar masuk lubang m*m*k Bu Maya. Nikmat sekali m*m*k ini, pikirku. Kemudian Bu Maya minta pindah posisi, dia di atas...bukan main permainannya, goyangannya.

" Remas tetekku Man, remaslah....yang kencang ya ?" Pintanya. Aku meremasnya.

" Cium bibirku Man..cium…! “ Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan.

" Sekarang isap tetekku, teruskan...terus.....Oh....Ohhhh.....Man...Leman...Ohhh...aku keluar Man....aku kalah" Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit.

" kamu curang....aku kalah" ujarnya. " Sekarang giliran kamu Man....keluarkan sebanyak mungkin ya? " pintanya.

" Saya sudah hampir keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap bertahan, takut Ibu marah nanti " Jawabku.

" Oh Ya?...gila..kuat amat kamu ?!" balas Bu Maya sambil mencubit pipiku.

" Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap ?" tanyaku.

" Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali. Kita akan lebih sering mencari tempat seperti alam terbuka. Kapan-kapan kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang sepi, ah... terserah kemana kamu mau ya Man?"

Setelah puas bermain cinta dan menuntaskan nafsu birahi Bu Maya, kami segera membersihkan alat vital masing-masing dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jerigen di bagasi mobil.

Kami beristirahat sejenak. Bu Maya sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, penisku tegang lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu Maya yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap sudah bugil. Disuruhnya aku tidur dengan kaki merentang, lalu Bu Maya membuka celana trainingnya yang tanpa celana dalam itu. Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya seperti gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku. Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya penisku ke sela-sela tetek besar itu, lalu di goyang-goyangkannya teteknya seperti gerakan mengocok.

" Gimana Man ? enak enggak ? " ajuknya manja,sambil mengerlingkan matanya menatap wajahku.

" Enak Bu…… awas lho nanti muncrat Bu" jawabku..

" Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, aku mau kok ?!" .

Bu Maya masih giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku. Tak lama kemudian, Bu Maya naik ke atas tubuhku dan seperti menduduki penisku, lobang m*m*knya dimasuki penisku. Digoyang terus...hingga aku merasakan nikmat yang luar biasa.

Tiba -tiba Bu Maya terdiam, berhenti bekerja, lalu berjata :" Rasakan ya Man ? pasti kamu bakal ketagihan " Aku membisu saja. dan ternya Ohh....m*m*k Bu Maya bisa melakukan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan meng-urut-urut batang penisku dari bagian kepala hingga ke bagian batang bawah, Oh....nikmat sekali…… mungkin ini yg namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya dalam bidang olah seksual.

" Enak sayang... ehmm... ?" tanyanya. Belum sempat aku menjawab…… yaah....aku keluar, air maniku berhamburan tumpah di dalam liang kemaluan Bu Maya.

" Ehnggghhh... Itu yang namanya empot-empot Man... itulah gunanya senam sex, berarti aku sukses latihan senam sex selama ini " Katanya bangga. " Sekarang kamu puasin aku ya ? " Kata Bu Maya seraya mengambil posisi nungging. Tanpa basa-basi kutancapkan lagi kejantananku yang masih ereksi kedalam m*m*k Bu Maya, Ku genjot terus dengan cepat dan penuh tenaga.

" Yang dalam Man...yang dalam ya..teruskan sayang...? oh....enak sekali penismu.....oh....terus sayang ?!" Pinta Bu Maya. Aku masih bisa memuaskan Bu Maya, aku tak mau kalah, kujilati pula lubang m*m*knya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Maya kembali orgasme setelah aku menjlati seluruh tubuhnya. " kamu pintar sekali Man ? belajar dimana ? "

" Tidak bu, refleks saja" Jawabku.

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya masih sempat minta satu ronde permainan lagi. Tapi kali ini hanya sedikit melorotkan celana trainingnya saja. demikian pula aku, hanya membuka bagian penis saja. Bu Maya minta aku melakukanya di dalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan susah payah kami melakukannya, akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari mobil dan mengambil posisi berdiri dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil mengangkat sedikit kaki kanannya.

Sejak saat malam pertama kami itu, aku dan Bu Maya sering bepergian ke luar kota. Kami bercinta di tengah hamparan perkebunan teh di Puncak, di dalam dangau di tengah sawah milik keluarga Bu Maya yang luas (kami lakukan di siang hari bolong !!! di saat para pekerjanya pulang untuk istirahat makan siang) bahkan sampai ke Pulau Seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya kami mencari tempat-tempat yang aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku sebenarnya menjadi gigolonya Bu Maya. Beliaupun semakin sayang padaku, uang mengalir terus ke kocekku, tanpa pernah aku memintanya. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah hingga tamat, asal aku tetap selalu bersamanya. Tentu saja dengan senang hati aku memenuhinya, sungguh aku merasa beruntung dapat menikmati tubuh indah dan sexy milik Bu Maya yang cantik itu, yang selalu dengan penuh gairah membara menghangatkan hari-hariku dengan permainan cintanya serta fantasi sex-nya yang luar biasa...

Baca Selengkapnya..

Hukumanku

19.02 by juliastuti.blogspot.com 1 komentar
Beberapa waktu yang lalu aku tertangkap oleh aparat pemerintah dalam sebuah razia yang dilakukan di wilayah pinggiran kota xxxx. Dengan sedikit usaha yang aku bilang sangat panjang akhirnya aku mendapat pengetahuan tambahan dari mereka, tapi semua itu juga musti aku bayar dengan usahaku sendiri. Namaku yunita temanku biasa memanggilku yuni tinggiku 167 cm dengan ukuran dada 34b kulitku kuning langsat. Di kehidupanku yang lalu aku merupakan primadona kompleks tersebut. Aku menjadi pekerja seks karena kehidupanku yang ironis ketika aku tinggal didesaku, hingga sampai saat ini aku hidup sebatang kara tidak memiliki sanak saudara. Aku saat ini mencoba menjajaki kehidupan ku yang baru dan entah sampai kapan. cerita ini ad yang aku bumbui dan aku kurangi


Ketika usiaku 21 tahun aku menjadi salah satu gadis yang cantik didesaku pada saat itu, teman-temanku banyak dan aku merasa banyak lelai yang mencoba menjadi kekasihku. Tetapi aku menganggap mereka semua adalah teman-temanku tidak lebih, orang tuaku petani penggarap sawah milik tetanggaku dan berhasil menyekolahkan aku dan adikku hingga tamat SMA. Berkat mengantar hasil panen orang tua ku kekota aku mengenal seorang pria yang saat itu manjadi kekasihku, kehidupan kami normal sampai kejadian malang yang menimpa kehidupan keluargaku dan kang sarman kekasihku. Pada hari kejadian kang sarman main kerumahku untuk mengajak aku menonton orkes karena ada hajatan di desa tetangga, jarak rumahku dengan desa tetangga sekitar 1 km. kami berjalan kaki sambil membicarakan kelanjutan hubungan kami, kang sarman menggandeng tangan dan sesakli mencium tanganku di jalan yang agak sepi. Aku merasakan sangat senang dengan yang kami bahas saat itu, sampai dengan kang sarman mengutarakan keinginannya untuk berhenti sejenak di pinggir sawah dan menunjkkan sebuah tempat dimana para petani mengusir burung pemakan padi, aku menyetujui keinginan kang sarman, kami menuju rumah-rumahan yang berada ditengah sawah tersebut. Setibanya disana kang sarman langsung mencium leher dan melumat bibirku, akupun membalas ciuman kang sarman tersebut, biasanya kami melakukan kegiatan tersebut di rumaku jika orang tua dan adikku pergi ke sawah atau kekota dan aku sudah lama tidak merasakan sentuhan kang sarman. Tangan – tangan nakal kang sarman sudah melepaskan semua kancing kemeja dan celana jeansku. Aku tidak bisa menahan rangsangan yang diberikan kang sarman ketika bibirnya menyedot ke putting susuku, aku mencari benda yang sangat aku inginkan rasanya lama sekali kang sarman mempermainkan susuku, aku berusaha meraih kontol kang sarman dengan membuka resleting celananya. Ku usap dan ku kocok benda tersebut yang membuat kang sarman melepaskan sedotan dan jilatan pada susu dan telingaku aku mencoba menahan gejolak pada diriku, namun gagal ketika tangan kang sarman berhasil masuk dan menggesek kan jarinya ke memekku, “ kang aku gak tahan lagi kang …ouh …. Oh…mmmhhh aku keluaaaaarrr kaaangggg….” seluruh otot dan tulangku seperti tertarik dan aku tak sanggup lagi menahan kenikmatan yang diberikan kang sarman. “yun kamu giliranku yah….” Kang sarman menyodorkan kontolnya dihadapan mukaku, aku mengerti maksud kang sarman, aku mulai memainkan jurusku, kujilati kepala kontol kang sarman sampai dengan bah pelirnya. “aduuuhhhhhhh yun kamu memang pintarr… “ kang sarman menarik kembali kontolnya untuk membuka celana jeans yang ia kenakan, aku menunggu sambil ku peggang seperti aku tidak mau kehilangan waktu sedikitpun. Belum sempat celana jeans kang sarman sampai kelutut tiba – tiba sebuah cahaya dari lampu senter menerangi wajah kang sarman dan teriakan dari sesorang kepada kami. “ heeey sedang apa kamu …..” kami sangat terkejut dan aku buru – buru menaikan celana dalam dan bh ku yang terlepas, tapi sangat malang karena aku tidak sempat meriah celana jeansku. Kang sarman juga berusaha meraihnya tetapi tidak berhasil malah sebuah pukulan telah mengenai kepala kang sarman, aku sempat melihat celanaku dibawa oleh seorang yang telah berdiri di samping kang sarman, kami dikelilingi empat orang pemuda desaku, kang sarman berusaha berdiri untuk melindungi ketelanjanganku. “jangan kang …ampuni kami…” kang sarman mengiba sambil berusaha melindngi ku “ ampun, ampun apa yang telah kamu lakukan?” “ nan liat itukan yunita yang lu taksir..” aku sangat ketakutan sekali sambil menangis aku menutupi memeku yang hanya hanya terlindng oleh celana dalam saja. “ dasar perek lu yun…ngotorin kampung kita aja” “hey apa yang udah kamu lakukan? Ayo ngomong jujur kalo tidak kita injak – injak ni cowok”. “PLAK….” Sebuah tamparan mendarat kembali di muka kang sarman, aku yang ketakutan mencoba menolong kang sarman. “ cepat lepas pakaian lu, kalo gak gw bunuh lu” kang sarman yang sudah merasa kewalahan mengikuti perintah ke4 teman sekampungku, kaki merasa lemasdengan kejadian itu. “hey lonte udah ngapain aja lo…jawab!!!” “kami belum ngapa-ngapain nan, ampuni kami”, kita bakal ngampuni lo kalo kalian ngaku”. Aku sempat melihat kang sarman sudah ditelanjangi dan di ikat di tiang saung dan sedang di introgasi oleh sarwa dan dunde. Aku hanya menangis dan dan diam saja ketika kata-katai dan dilecehkan oleh maan dan dao. Tiba-tiba dao menjambak rambutku dan mencoba membuka baju dan celana dalamku. “ maan yang sedari tadi menanyai ku mencoba menarik bajuku “lepas pakain mu kalo ga gw arak lo keliling kampung” “jangan an ampuni aku, aku mohon”, “ya udah kerjain aja yang kita minta kan selesai”,”emang ga’ ada tempat laen apa, pada ngentot di sawah dasar, gw kira lo alim yun” aku mendengar perkataan dao kupingku terasa panas sekali, aku membuka pakaianku satu persatu hingga aku telanjang bulat didepan ke empat laki – laki tersebut. “lo lakuin apa yang udah lo lakuin tadi cepeeet…” sarwa melepas ikatan kang sarman dan menendang pantat kang sarman hingga terjerembab di kakiku. Aku mencoba mengikuti kemauan mereka agar mereka tidak menyakiti kami. Aku melihat ada cairan dari wajah kang sarman yang aku kira air mata ternyata darah keluar dari pelipisa kang sarman. “cepet lakuin…” perintah dari maan. Tiba – tiba dao menarik susuku hingga aku menjerit kesakitan dan menangis karena sakitnya tarikan dao. Kami berdua berusaha melakukan apayang telah kulakukan tetapi kontol kang sarman tidak mau berdiri hingga mereka mentertawai dan mencemooh kami. “yun…yun cowo impoten aja lo layanin mendingin ama kita.. hahahaha….” Aku berusaha membangunkan kontol kang sarman, dan kang sarman juga berusaha menciumi ku tapi yang kurasakan memang agak canggung. Tiba tiba sarwa menarik tubuhku hingga aku terjatuh terlentang di sang tersebut aku melihat sarwa dengan ganasnya meremas – remas dengan paksa susuku dan berusaha menciumku. “an jangan diem aja lo mau gak? Pegang kaki ama tangannya” aku meronta sekuat tenaga tapi apa daya mereka berempat lebih kuat dan sudah tak berdaya, aku merasakan memek ku ditsuk tusuk dengan jari, susuku dan bibirku dilumat habis hingga aku tak dapat bernafas, sempat aku melihat kang sarman jongkok tak dapat berbuat apa-apa. “wa lo dulu dah yang nyobain perek kampng kita”, “siap O…hehehe…” tangan ku dipegang oleh dao dan maan sedangkan sarwa dan dunde sibuk memainkan susuku dan memekku. Dengan lincahnya tangan sarwa memainkan memeku hingga aku tak dapat menahan rangsangan yang mereka lakukan. Tanpa aku sadari aku mengikuti gerak tangan sarwa daaaannn….aaaahhhhhh… aku tak kuat menahan gejolak dalam diriku. Mereka mentertawai ku karena mereka berhasil melemahkan pertahananku. “dasar perek ya tetep perek…cob lo dari dulu terima gw jadi cowo lo kan ga gini jadinya…hehehe….” Tanganku mengepal kencang berusaha berontak tetapi tak berhasil sampai aku rasakan kontol sarwa sudah berada dalam memek ku. Sarwa menggenjot aku hingga aku tak sanggup mengimbangi ritma sodokannya, tanpa aku sadari pula maan dan dao melepaskan pegangan tangannya dan serta merta aku memeluk sarwa tetapi sarwa tidak meneruskan sodokannya sampai aku merendahkan martabatku untuk menahan pantat sarwa. Aku yang sudah hampir mancapi klimaksku yang ketiga merasa tidak ada perasaan takut dan malu lagi untuk meminta meneruskan sarwo menyelesaikan tugasnya aku terduduk dan tiba-tiba maan mnjabakku menarik kedepan hingga aku hampir terjerembab kedepan, aku berusaha bangkit dengan kedua tanganku sampai dengan posisi merangkak maan menarik mukaku selangkangannya aku menuruti kemauannya, tanpa canggung aku mngisap kontol sampai dengan pangkalnya. Dari belakang aku merasa sarwa sudah siap dengan kontol yang akan menusukku dari belakang dan “ aahhhh…” aku merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya empat lelaku mengerjaiku sekaligus di tengah alam yang terbuka. Aku hisap kuat-kuat kontol maan hingga dia menyemprotkan maninya di dahi dan mataku, sarwo juga mengakhiri pekerjaannya didalam rahimku . dengkulku sangat lemas dan aku merasa gemetar di kakiku mataku berkunang – kunang aku sempat melihat kang sarma yang memperhatikkan keadaan diriku hanya tetap berjongkok dan berdiam diri dan aku melihat kontolnya telah berdiri tegak “maafkan ak kang sarman,…” dan aku tidak mengingat apa yang terjadi atas diriku sampai tiba – tiba aku merasakan air hangat dan bau menyiram mukaku. Ketika ku buka mataku kang sarman telah berada di mukaku dang mengencingi aku. Aku gelagapan dan menelan air yang asin dan agak pahit tersebut. Tiba – tiba kang sarman memeluk dan menciumi mukaku yang penu dengan air kencingnya, “BUKKK” sebuah tendangan mengena di perutnya hingga membuat kang sarman terpental kesisi ku. “gue bilang bangunin buka lo ciumin, dasar bego lo..” aku mendengar samar – samar suara tangisan kang sarman, ya kang sarman menangis….kang maafkan aku…dalam hati ku berkata. Aku bangkit dan melihat keadaan diriku sudah penh dengan mani aku menduga selama aku pingsan aku telah dikerjai oleh mereka. “cepet lo bersihin perek l noh…” kata dunde dengan dengan melemparkan celana dan pakaian dalam kang sarman. Aku masih belum mengerti apa yang akan deikerjakannya. Kang sarman berdiri sampbil terhyung huyng ketepi sawah dan menuj kearahku. “lap yang kering kita suruh ngeluarin peju lo malah kencing dasar bego lo” aku melihat kearah kang sarman yang sudah bengkak dan penuh darah, aku berusaha membersihkan diriku sendiri tapi dilarang oleh mereka. Tanpa aku sadari ayam jantan sudah terdengar dan aku melihat dao telah membawa orang – orang kampung menuju arahku. Aku yang sedari tadi duduk disamping kang sarman menjadi terdiam dan sangat takut. Kang sarman berusaha memegang tanganku menunggu apa yang akan terjadi.

Ternyata mereka berempat telah berbohong kepada kami, mereka tidak melepaskan kami tetapi sepertinya kami difitnah oleh mereka. Warga kampung telah mengelilingi kami. Aku berusaha menutup ketelanjanganku hanya dengan tangan. Sinar matahari terus menerangi ketelanjangan tubuh kami. Ternyata ini menjadi neraka yang kedua bagi kami. Aku melihat kang sarman ditarik dan dipukuli oleh warga sedangkan aku menjadi tontonan warga. Sudah tidak ada air mata yang dapat keluar dari mataku aku hanya pasrah saja “arak…arak…arak..” aku sangat takut dengan teriakan – teriakan warga tersebut. “ sebelum diarak suruh mereka melakukan apa yang dilakukan aja” teriak sarwa sambil berkacak pinggang. “ya…ya.. setuju…” kang sarman dilempar kearahku dan seorang lelaki menampar pipiku dan meminta aku untuk melakukan yang tidak aku lakukan. Tetapi untuknya aku melihat kontol kang sarwa telah berdiri sehingga didepan plhan mata kang sarman mengarahkan kontolnya ke mulutku. Kami melakukan hal tersebut sambil menangis tetapi sempat kang sarman membisikan ketelingaku untuk tetap tenang. Ketika aku menyedot kontol kang sarman, dia di tarik ntuk merubah posisi dan warga meminta aku untuk maju ke tepi saung dan menungging. Aku mengikuti keinginan mereka karena aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Beberapa wanita menampar pantatku hingga terasa sangat panas sekali. Kang sarman diminta untuk memasukkan kontolnya dari belakang.”nah gitu dong anjing kan kaya nya harus kaya anjing…hahahaha…” suara tawa warga riuh menyoraki kami. Ak menjadi terangsang akan situasi yang terjadi dimana aku diminta untuk merangkak sedangkan kang sarman mengikuti sambil menggoyangkan pantatnya. Aku merasakan kontol kang sarman membesar dan aku juga berhenti karena aku juga akan keluar. “ wah pada mau keluar tuh…” tiba – tiba kang sarman ditarik oleh meraka dan aku juga di buat telentang, mani kang sarman akhirnya menyembur kearah wajah dan dan rambutku, tidak sampai disitu aku diminta membersihkan mani di kontol kang sarman begitu jga kang sarman diminta membersihkan mani ku yang belepotan di memeku. Beberpa lelaki meminta aku tidak membersihkan mani yang ada di mukaku. Ketika aku sedang menjilati kontol kang sarman, dia lemas meniduri diriku, ternyata kang sarman pingsan diatas tubuhku. Sambil menunggu kang sarman sadar aku tidak boleh duduk aku di haruskan berjongkok sambil mengangkang disamping tubuh kang sarman. Oleh para wanita memeku dilempari kerikil susuku dijepit dengan anyaman bambu. Untung tidak berapa lama sesepuh desa datang dan kang sarman juga sadar. Ketika mereka hendak membersihkan wajah dan tubuhku mereka dilarang oleh warga mereka mengancam para pemimpin desa akan mendemo mereka. Akhirnya mereka menyetujui hukuman warga kepada kami. Kami diarak tanpa mengenakan sehelai benang pun berkeliling kampung dan kontol kang sarman diikat tali dan aku diminta menariknya, sedangkan aku selain wajahku yang penuh mani kering memekku dimasukkan singkong yang berukuran kecil dengan panjang 25 cm dan diameter 3cm, serat leherku diikat dengan tali dan saling terkait dengan kang sarman. di jalan aku hanya menangis dan menunduk, banyak warga kampung yang mentertawakan dan ada juga yang menangis. Sempat di tenga jalan kontol kang sarman di olesi oleh balsem hingga kang sarman menjerit dan menagis. Sedangkan aku beberapa kali klimaks karena merasakan singkong yang berada dalam memeku terkadang sangat nikmat sekali. Sambil jalan maniku pun menetes “masih sempet-sempetnya keluar tuh peju…” banyak warga yang mentertawakan kejadian tersebut. Sampai didepan balai desa kami di mandikan dengan cara disiram dengan selang kami saling menggosok dan menyabuni satu sama lain. Aku sempat di minta ntuk mengocok kontol kang sarman tapi tidak diperbolehkan oleh kepala desa. Di balai desa kami di adili dengan hukumanku diusir dari desaku saat itu juga. Aku dilarang bertem dengan orang tua dan adikku, begitu juga kang sarman yang sudah di gunduli kepala dan jembutnya oleh warga, aku diberikan pakaian dan uang sebesar 20 ribu. Setelah sidang tersebut aku melihat seorang yang emosi menghantam kepala kang sarman dengan bambu dan kang sarman manjadi tak sadarkan diri. Melihat emosi warga yang mulai marah lagi akhirnya kang sarman dibawa oleh beberapa pihak berwajib yang kapan datangnya aku tak mengetahuinya. Akhirnya aku diusir oleh waga hanya dengan bekal uang 20 ribu dan hanya pakaian yang menempel di badan.

Dalam kebingunganku aku masih mencari keberadaan kang sarman, beberepa cerita yang lain perjalanan, jika aku sempat akan kutuliskan kembali sampai aku menjelajahi duniaku yang kujalani saat ini. Aku sempat memastikan keberadaan kang sarman yang menjadi hilang ingatan dan keluargaku yang telah tiada karena bunuh diri di sebab tidak kuat mananggung aib ku. cerita buat mengingatkan 4 temanku didesa.
Baca Selengkapnya..

Suami Istri Konyol

19.02 by juliastuti.blogspot.com 4 komentar
Me n wife dah lama membicarakan soal swing mesti masih belum kesampean. Ada rasa takut ato belum siap, terutama soal kerahasiaan. Maklumlah belum pernah mencoba.

Cerita ini bermula dari iseng membelikan wife kaos seksi yang ketat. Abis belanja-2 ternyata banyak kupon diskon yang sayang nggak dipake', akhirnya gw iseng bilang ke wife gimana kalo kubelikan kaos seksi? Wife setuju tapi harus aku yang beli. Akhirnya memberanikan diri. Meski sempat disenyumin ama mbak-2 spg kaos cewek itu, cuek aja..


Singkat cerita di mobil me n wife cerita-2 hot soal imaginasi di mobil. Kupancing wife kalo berani tukar bajunya dengan kaos yang baru dibeli, ternyata tantangan disambut. Sambil mepet-2 kiri di jalur arah ciawi klakson dari angkot dan motor dari belakang wife cuek aja. Kursi dilipat ke belakang langsung buka-buka. Yang bikin horni wife sempat buka baju lama, durasi sekitar 10 menit tanpa sebenang pun bagian atas, sampe sempat dilirik pengendara motor. Toket wife yang 36 cup C menggelantung menjulang langsung gw isep tapi curi-curi mengingat lalu lintas ramai akhirnya kupegang-pegang aja dan minta wife pake kaos ketat yang baru kubeli wow... so sexy that was the firstime liat wife pake baju seseksi itu. Maklum wife selalu risih dengan tontonan orang terutama ke bagian dada sehingga selalu mengenakan baju kerja yang sopan dan bra yang ndak pake kawat.

Lanjut cerita, wife juga ikutan horny dan pengen pamer. Bingung juga maksudnya gimana, akhirnya tancap gas ke arah diskotik daerah taman sari. Karena masih termasuk sore, kira-2 jam 8.30 wife n me kecewa karena mash sunyi dan club belum buka. Akhirnya disuruh maen bilyar dulu ama yang jaga di depan.. kurang sip dan tertantang akhirnya ke club karoke daerah dekat baranang siang..meski masih sepi tapi lumayan hot karena wife bisa pamer di depan beberapa tamu, sambil keluar masuk ke toilet..

Kira -kira satu jam di club karoke akhirnya pulang, takut telat ndak enak ama mertua yang lagi nginap ke rumah.

Di tol arah pulang wife udah tambah horni. kaos yang belahan rendah udah diturunin ampe gunungnya menggantung bebas. Petugas tol sampe malue ngeliatnya. Me saking horninya dah pengen banget ml ama wife. Minggir di rest area bogor terlalu rame, ndak enak akhirnya kaluar lagi nyari-2 tempat sepi. Keluar sentul bikin wife tambah horni pengen toge-nya dipegang orang katanya. cuman mau dipegang aja rasanya gimanaaa gitu. Diskusi akhirnya diputuskan cari tukang rokok di tempat sepi, rencananya pura-2 beli rokok nanti wife mau narik tangan orang itu pegang toket wife.. akhirnya nyusurin jalan ke arah gunung pancar, masuk kanan mengarah ke jalan kampung menuju sentul selatan...

cari-2 tukang rokok yang sepi ndak ada akhirnya jalan terus... mendekati keluar ke perumahan sentul selatan, ada jalan gelap ke kanan arah gadok (alternatif).. akhirnya masuk.. gelap takut juga ada setannya... ndak taunya pikiran setan yang masuk..

lewatin pangkalan ojek ada dua ojek anak muda sedang nongkrong... akhirnya timbul pikiran gila. Me turun pura-2 nanyain jalan ke arah gadok wife stay di mobil. Dua anak muda ini akhirnya boncengan jalan di depan kita tunjukin jalan. Melihat lokasi sudah sangat sepi dan gelap aku nyalain dim dan sein ke kiri.. dua anak muda itu kemudian balik lagi ke arah mobil..

karena emang nanya arah jalan, keduanya sama sekali ndak curiga kalo kita mo minta service enak buat wife dari mereka... pas di samping kaca gw langsung tanya sambil senyum.. "mas-mas, mau pegang2 toket nggak? mbak ini pengen toketnya diraba..."

lucu juga karena keduan cuman saling tatap seperti risih.. gw malu juga nanyanya rupanya dua anak muda ini emang anak muda yang nggak suka iseng.. tapi yang duduk di belakang boncengan rupanya tertarik dan lebih berpengalaman.. keduanya hanya takut diliat teman-2 ojeknya yang kerap lewat..

sementara wife udah tambah horni sambil buka pintu "ayo dong mas.. pegang aja..."

keduanya masih mikir.. dan malah ngajak minum-2 di tempat tongkrongan wife yang sudah horni setengah marah " mau nggak sih.." kalo nongkrong udah nggak sempat karena kita dah mo balik...
Melihat dua anak muda ini agak plinplan akhirnya me ikutan nimbrung. "ayo dong, masa dikasih enak nggak mau" keliatan mereka berdua masih mikir akhirnya pura-pura mau jalan akhirnya salah satu dari dua anak muda ini mau. Kagetnya, malah yang di depan, yang dari tadi keliatan pendiem dan alim..

oke bole deh.. anak yang satu ini langsung menuju wife, me langsung tegang, dag dig dug sampe hampir tak percaya, agak cemburu sedikit nyesel tapi horni...

wife pun membuka pintu kiri mobil lagi sambil menatap horni ke si anak itu.. tapi anak ini mungkin saking lugunya masih ngeliat wife yang sudah siap disantap itu.. "bener nih mbak.."

Tanpa pikir panjang wife langsung lipat kursinya ke belakang dadanya pun membusung indah di balik baju ketat yang masih menggantung merek itu... melihat adegan ini me hanya bisa terpana melihat wife yang selama ini kukenal sangat pemalu sopan dan cenderung diam punya keberanian yang sungguh mengagetkan...

melihat anak muda ini yang masih ragu wife akhirnya mengangkat kaos itu dari bawah dan tampaklah bukit indah yang masih dibalut BH itu...
meski kulit wife nggak begitu putih tapi bersih cukup indah diterangi cahaya remang-remang lampu jalan di kejauhan...

tiba-tiba tangan anak muda ini mulai memegang perut wife mengelus-ngelus sebentar kemudian naek ke atas ke arah BH putih ber-cup C itu... dadaku semakin dag dig dug.. this is the first time i see some one touching my wife body...

sekilas mata wife yang sudah horni ngeliat gw... untuk menenangkan kuelus tangan dan punggung wife agar tenang... sementara tangan anak muda itu sudah mulai meremas dada wife, awalnya satu tangan akhirnya dua tangan.. agak lucu karena satu tangan ternyata ndak cukup untuk satu bukit wife.. mungkin agak lebih besar karena bra-nya...

Karena mendapat lampu hijau wife keliatan semakin membara... branya pun diangkat oleh wife sendiri sehingga memunculkan kedua bukit kenyal yang sudah tegang.. putingnya pun sudah menjulang... anak muda yang mendapat sodoran barang kenyal dan gress ini pun mulai horni dan keliatan betul-betul terangsang.. awalnya masih liat kiri kanan takut temannya tiba-tiba lewat.. kali ini mulai memegang kedua gunung wife diobok-obok... dan yang bikin gw kaget anak muda ini mencoba berusaha naek ke atas mobil dengan posisi menindih wife... karena kondisi ruang yang sempit usahanya ini gagal beberapa kali yang membuat lucu sekaligus horni karena dia begitu bernapsu... wife juga yang sudah sangat horni karena remasan dan plintiran di putingnya pun mulai melenguh ... perasaan cemburu tiba-tiba muncul karena wife di tengah nafsunya sempat bicara " ayo mas... remas yang liar sayang... aku terangsang... mmmhh..."

karena mendapat tantangan wife, anak muda ini tiba-tiba mencium wife langsung di bibirnya... rasa cemburu kembali menjalar di tubuh me... sudah di depan mata... wife ternyata sangat terangsang dan mereka begitu menikmatinya.. namun keanehan muncul karena rasa sayang ke wife justru semakin bertambah sampai 500%... ada rasa ingin wife betul-betul terpuaskan... tidak nyangka juga bro yang satu ini pintar menyium karena pangutannya lumayan lama... me pun tidak tinggal diam ikut meremas toket wife yang ngganggur...

lepas dari pangutan.. wife sudah benar-benar liar... anak muda ini pun sama liarnya... secara bergantian puting wife dikulum dan sesekali bibir dikulum mesra.. bak sepasang kekasih.. wife juga tidak tinggal diam... tangannya mulai membuka kancing kemeja anak muda ini dan meraba-raba dada anak muda ini yang kebetulan berpostur tinggi dada agak bidang meski perut sedikit gendut... dari dada... wife mulai meremas-remas 'barang keras' anak muda ini dari balik jeansnya...

karena dikulum terus di putingnya.. wife mulai tak tahan... posisi anak muda ini sudah menindih wife dari atas dan sudah masuk ke dalam mobil.. saking terangsangnya putingnya diraba wife dari balik kemeja dan barangnya dipegang... dia pun memeluk wife kuat-kuat sambil berusaha mencium wife... tapi kali ini wife melirik ke me lagi... sementara anak muda ini karena tidak dapat bibir wife malah dapat lehernya... tempat yang juga sangat merangsang bagi wife...

wife membelalak sambil meliat me yang lagi campur aduk antara horni, cemburu dan menikmati proses nikmat ini... yang bikin lebih horni sekali-kali wife seperti berteriak tertahan karena ternyata anak muda ini nggak hanya nyium leher wife tapi juga sekali-kali menggigit... di tengah wajahnya yang membelalak itu wife memegang tanganku yang hanya nangkring di persneling dan meminta me meremas dada kanan wife yang setengah tertindih badan anak muda ini...

saking terangsang tangan wife mulai memegang selangkangannya dari luar celana kainnya dan mulai membuka resletingnya... wife akhirnya ngomong..di tengah horninya.. 'yang buka celana yaa..."... me kaget setengah mati... dari raba dada kini wife juga dah pengen lepas celana...

karena dah horni juga me akhirnya menngiyakan wife membuka celana sambil terus diciumin bergantian dari leher, dada dan bibir wife... dari mulut wife keluar kata-kata " sayang muasin aku malam ini yaaa... kamu punya nomor telpon nggak? kamu buat aku terangsang..." me juga kaget.. tapi terus horni sambil mulai meremas barangku sendiri yang sudah sangat tegang dan berair...

tidak sampai satu menit wife dah berhasil melepas celana kainnya tinggal cd pink ketaatnya yang di kiri kanan tampak transparan... di depan cd wife nampak telah becek dan digosok-gosok ke paha anak muda itu yang masih terbungkus celana jeans... proses ini berlangsung cukup lama sampai akhirnya wife masukin tangan kanannya ke dalam cd untuk memegang dan merangsang bibir kemaluannya... juga memasukan jari ke dalamnya... tangan kirinya memegang kepala bocah ini untuk mencium lebih keras dadanya dan sekali-kali diarahkan untuk mencium bibirnya...

yang membuat me sangat terangsang ketika celana dalam wife dilepas sama anak muda ini dengan agak bernapsu dan wife telentang pasrah dengan kaos tersingkap ke atas, bra juga tersingkap ke atas dengan dua bukit tegang juga pucuknya...

tak tahan me pun mulai mengeluarkan si boy dari balik celana dan memegangnya.. si anak muda sekilas melirik sambil tersenyum... "mas temannya enak nih...." (memang dari tadi me ngakunya wife adalah teman kantor...)

me semakin terangsang waktu liat wife sudah mengangkat kedua kakinya ke atas sambil jari anak muda ini sudah berada di 'mmk' wife yang sudah sangat basahnya... tak sadar ternyata ada siluet di belakang me terlihat dari kaca, ada orang lain ternyata menonton adegan ini dari balik kaca dan me pun malu dan memasukan sii boy yang sudah tegang dan sudah dikeluarkan.. tapi membuka sedikit kaca.. yang ngintip tersenyum aja... trus pergi dengan motornya...

wife pun terus dikocok pake jari anak muda ini sambil teriak nggak karuan... posisi wife yang sangat menantang dengan kaki ditarik ke atas... membuka mmk-nya lebar-lebar... me pun mengelus kaki wife dengan sayang... trus wife dicium lagi dadanya dan wife sudah sangat terangsang... akhirnya wife mengangkat tangannya ke atas kursi...

melihat adegan ini me sangat terangsang karena me emang nggak pernah kuat liat wife menunjukan keteknya yang gempal dihiasi bukit kembarnya yang sedang tegang... me terangsang lagi dan mengeluarkan si boy dan dikocok sendiri... pengenya wife yang ngocok tapi wife malah menggunakan kaki kirinya menggesek selangkangan si anak muda yang terlihat sudah mulai menyembul dari bali jeansnya...

karena terus dikocok akhirnya wife teriak aaaaaaahhhh.... aku keluar sambil menyemprot seperti kencing basahin dashboard mobil... si anak muda terus mengocok hingga wife turunin kakinya... me pun hampir bersamaan menyemprotkan cairan kenikmatan dan tersandar di kursi...
setelah wife crot dan mereda sekitar satu menitan.. dengan napsu dan mungkin terbawa semangat yang masih di awan-awan itu wife langsung tarik kepala anak itu trus dicium sambil otongnya dipegang dari luar.. di anak muda terlihat sudah sangat horninya. melihat adegan ini luluran pejuh di kepala otong gw gw minta diisep ama wife.. maklum masih berkejut-kejut dan biasanya enak kalo dikulumin wife.. apalagi emang wife menurut gw cukup hebat untuk hal yang satu ini.. sambil mengulum, biasanya sambil mainin lidah sehingga pijatan di kepala otong aja dijamin bisa ngilangin pusing... 

Tapi heran bin takjub... sensasi wife sampe permintaan ogut malah dicuekin.. dari belakang kepala yang agak dijambak ama wife.. tangannya turun ke belakang badan anak muda itu.. keliatan betul wife terangsang dan puas dengan servicenya.. sambil badannya ditarik wife nempel ketat di toketnya.. tangan wife juga sambil meremas kemeja anak itu.. kancing kemeja yang tadi terbuka memunculkan dada bidang anak itu yang menempel hangat dan kenyal di dada wife... gw malah jadi menikmati adegan ini sambil tetap megang otong gw yang anehnya, baru saja crot kok udah mulai tegang lagi...

yang bikin gw tambah ngenes.. anak muda ini malah protes sama gw.. mas bukan mas aja yang pengen dikulum punya gw juga pengen!!... dengan wajah memerah saking nafsunya...

Gw akhirnya mengalah... dan suruh wife ke bangku belakang aja.. celana wife yang nyantol di salah satu kakinya kini dilucutin semua ama wife.. dan mundur ke belakang.. wife juga buka pintu belakang mempersilahkan anak muda itu masuk... anak muda itupun masuk, duduk di kursi belakang... dengan sigap wife langsung menuju resleting anak muda itu dan terlihat seperti lomba buka celana... wife yang terlihat susah buka ikat pinggang anak itu menyerah... dan langsung buka resleting... tapi karena udah nafsu banget... anak muda itu langsung narik lagi bibir wife dan diciumin lagi... gw sangat cemburu tapi jika inget-2 masa pacaran dulu.. baru inget kalo ceritaku dulu juga hampir sama waktu melakukan yang sama di warnet

sambil pangutan anak muda itu yang membuka celananya dan langsung dilucutin ke bawah... terlihatlah otongnya sudah sangat keras... tapi sorry to say... mungkin karena masih abg, otongnya meski lumayan panjang tapi kecil.. kepalanya aja yang terlihat besar.. tapi ukuran sekitar diameter 3,5 cm.. tanpa pikir panjang wife pun langsung mengulum otongnya... cukup hot karena frekuensi maju mundurnya cukup cepat... yang bikin gw horni... liat wife yang nungging sambil mmknya terlihat membuka memerah dari belakang.. pengen rasanya gw sodok dari belakang sayangnya posisi jok mobil yang tidak memungkinkan..

Ini adalah fase yang mendebarkan karena sering ada sorot lampu yang membuat pose nungging wife seperti pameran bunga di atas panggung ... dengan sedikit cairan yang meleleh di paha... yang lebih mendebarkan lagi ada sorotan lampu terang yang agak lama... ndak taunya ada honda jazz lewat dan sengaja berenti sebentar.. trus jalan lagi sambil klakson dua kali... sukurlah bukan polisi, semoga itu mobil salah satu member ceritadewasa.info hihi...

Setelah dikulum agak lama, anak muda ini ndak crot-crot juga... salut gw mengingat lumatan wife sungguh nikmat... di sini baru wife menoleh ke gw... gw yang sudah mengerti maksud wife akhirnya mengiyakan.. trus bilang ama anak muda itu supaya mbaknya dimasukin... wife akhirnya baring di kursi dan anak muda ini dengan napsunya langsung mencopot celananya ke bawah dan dengan kasar mengangkat kaki wife biar ngangkang dan mulai menindih wife... terdengar wife agak merintih waktu otongnya masuk.. dan anak muda ini dengan pelan mulai maju mundur... sangat menggairahkan karena berdua tetap saling pengutan... me horny lagi trus mulai ngocok lagi... yang bikin gw ndak sanggup adalah waktu wife yang udah keliatan sangat terangsang mulai merintih dan menarik badan anak ini biar nindih badan wife... karena cukup lama ngocoknya anak muda ini belum ngecrot juga.. beberapa kali wife mengangkat badannya dan mengisap puting anak muda ini...

Makin lama gerakan maju mundur anak muda ini semakin cepat wife juga semakin mendesah... sambil kepalanya geleng kiri geleng kanan... yang bikin gw sangat horny anak ngeliat wife mengangkat tangan ke atas sehingga nampak ketek wife yang kenyal itu dilingkar tali bh item wife yang yang melingkar di lengan... gw juga hampir ngecrot... melihat pemandangan indah ini.. anak muda ini kemudian mencium ketek wife yang gemuk kenyal dan harum itu... me sangat terangsang karena ini adalah salah satu gw.. (kadang-kadang kalo pagi mo berangkat kerja.. liat wife nata rambut sambil liatin ketek bisa menghasilkan satu ronde di pagi hari .. taka lama setelah mengangkat tangan ke atas wife akhirnya crot sambil melenguh tertahan karena bibir anak muda ini udah di bibir wife... mmmppppfff mmmpppphhhpfff ... anak muda ini saking merasakan lumatan bibir atas bawah wife akhirnya ampir keluar... 'aku mo keluar'... wife pun langsung mendorong badan anak muda ini sampe otonya kecabut.... meski cairan wife masih terlihat mengalir cukup banjir dari mmk..nya wife sempat ingat agar jangan crot di dalem... anak muda yang lugu ini sampe bertanya agak kecewa.. 'kenapa mbak?' tanpa menjawab wife langsung menyerbu otong anak muda ini membuat anak muda ini menjerit.. jerit... saking napsunya... rambut wife dijambaknya dan menaik turunkan kepala wife sampe wife sempat teriiak 'auwww' saking kasarnya..

akhirnya anak muda ini melenguh keras... 'ooooooohhh....' sambil bersandar keras ke belakang... wife terus mengulum dan mengangkat kepalanya... trus agak teriak owww... sambil tersenyum.. ternyata semprotan otongnya cukup kencang hingga mengenai hidung dan sedikit alis wife.... wife meliat ke aku sambil agak terseyum... dengan wajah yang masih memerah karena gairah.. anak muda ini setelah turun ke bumi langsung membelai mesra wajah wife yang lagi sibuk ngelapin wajahnya dengan tisu... kepala wife ditarik lagi untuk pengutan... sambil kata..2 yang tak lagi bisa kutulis semua.. 'kamu hebat.. kamu cantik... mmk kamu enak... aku pengen *****in mbak lagi yaaa....' wife juga tak lupa dengan refleksnya... nanti minta nomornya yaaa berkali-kali... ampe jadi khawatir jangan-2 mereka mo janjian ketemu lagi... otong anak muda ini meski kecil cukup segar dan tahan... setelah ciuman mesra sambil ngobol mesra yang membuat gw kaget anak muda ini tiba-2 narik kepala wife lagi.. disuruh isepin ****** dan melumat lendir kenikmatan anak muda ini... wife pun menoleh ke belakang sambil tersenyum puas meminta persetujuanku... akupun mengiyakan... wife menarik tanganku untuk memegang teteknya dari belakang ... kupegang tetek sebelah kiri wife sambil wife kembali ada posisi nungging di awal agak lama hingga 5 menit akhirnya gw interfensi... 'udah .. udah... balik yuk'... anak muda ini karena mungkin baru inget kalo gw menonton semua adegan kembali tersadar.. ok deh mas... wife pun kembali duduk dengan tersandar puas mungkin juga kecapean....

setelah berpakaian anak muda ini kembali ke penampakkan awalnya yang sopan.. sambil tersenyum.. pamit... aku pun menutup pintu.. terlihat anak muda ini bertepuk tangan memanggil temannya yang dari tadi menunggu agak jauh di belakang mobil... tiba-tiba wife tersadar kaloo no hp anak muda ini belum kita catat... aku pun klakson dan memanggil anak muda ini... de!! de!!... ' apa mas?' "no hp-nya berapa?".. dia dah bareng temannya menghampiri mobil.. karena nggak kedengaran.. pintu belakang akhirnya kubuka... eh yang masuk malah temannya anak muda yang satu lagi.. sontak anak muda ini kaget melihat wife yang tanpa celana dan kaos serta BH terangkat ke atas dan awut2an lagi terbaring pasrah... anak muda ini iseng juga.. sempat nanya bole di pegang nggak om? ... aku yang pengen segera cabut hanya ngeliat aja.. "ntar lama lagi.. kataku.. berapa hp-nya?"... ini om..085xxxxxxxx selagi mencari polpen di dashboar dan kertas untuk mencatat nomornya kulihat anak muda ini sudah memegang-megang toket wife..sambil bergumam "wah gede juga kenyal lagi"... gw hanya bisa ngeliat karena tangan anak muda ini sambil dipegang tangan wife. rupa-rupanya wife yang menuntun tangan anak muda ini tapi wife sambil setengah sadar.. setelah mencatat... anak muda ini melepaskan tangannya dari pegangan wife.. nanti lain kali berdua bole nggak? bole aja laen kali yaa ... kata wife..

sebelum menutup kaca gw mengambil 50rb dari laci mobil menyodorkan ke tangan anak muda ini.. ini buat rokok dan nemenin santai-santai... kata gw.. nggak usah rame2 yaa.. tambah gw... pintunya pun ditutup dan gw menyalakan mesin dan cabut.. sambil tak lupa mengklakson tanda terima kasih ke anak2 muda tanggung yang ternyata udah bertambah jumlahnya di pengkolan setelah terowongan...

Baca Selengkapnya..

Cerita Di Distro

19.00 by juliastuti.blogspot.com 1 komentar
Sore itu aku dapet reminder dari bb tercinta kalo keponakan tersayang ultah, bingung deh mau kasih kado apa. Lalu aku putusin jalan pake mio pink tercinta. Jogja sekarang sering macet, apalagi kalo abis ujan. Jadi males keluarin mobil, belum lagi kalo kotor. Jadinya santai aja naik motor bisa cepet kemana-mana.


Waktu ganti baju di depan lemari, pikiran nana jadi iseng. “Mmmmmm…. , sambil eksib g ya….”, gitu pikir nana. Akhirnya nana putuskan buat melakukan hoby nana ini

Langkah pertama pilih baju. He.he.he…… mmmm….. berhubung dingin g berani jalan kalo G pake CD or BRA… bisa masuk angin nanti…., Akhirnya nana pilih bra item sama cd item. Buat atasanya nana pake langsung jaket dari wool. Hi.hi.hi jadi kan kayak lubang2 gitu. apalagi kalo dilihat dari dekat. Apalagi warnanya pink mendekati putih jadilah bra nana membayang disana. Buat bawahanya pake rok jeans. G terlalu mini c, tapi dah diatas lutut.

Di jalan nana melirik spion motor kok ngerasa ada yang ngikutin nana. Nana cuek aja…. dia kayaknya mahasiswa gitu dari dandananya. Setiap lampu merah dia pasti berhenti di samping nana, tapi rada ke belakang. Kulirik… wah… nampaknya dia terpancing liat tetek nana. “Kena lo…. !”, pikir nana. Sengaja nana tengok dia dan senyum genit sambil nunduk liat tetek nana sendiri yang sengaja nana busungkan. Dasar cowok, dimana-mana “dari mata turun ke tetek”.

Akhirnya setelah puas puter-puter nana mampir ke distro pakaian ABG punya temen nana. Setelah parkir motor nana masuk. Ternyata temen nana lagi ke badung beli stock distro. Yang tunggu toko adiknya… Mmmmm…. lumayan cakep nie cowok, nana kerjain ah…

“Eh adit… Herma(nama temenku) mana ?”, tanyaku. “Lagi ke bandung c.. cari dagangan, Cc cari apa ?”, tanya dia balik. Nampaknya dia belum sadar kalo aku pake baju seksi. Akupun mendekati meja kasir dan membungkuk bertumpu pada tanganku yang dimeja. “Gini… ponakanku ultah aku mau cari baju cewek yang abg gitu, seksi, girly gitu deh….”, senyumku menggoda. Nampaknya adit mulai salah tingkah disuguhi tetek yang menantang untuk diremas. “Kenapa dit kok tegang gitu…”, tanyaku menambah dia salah tingkah. “gggg…. g papa c…”, pilih aja nanti adit kasih diskon.

Akupun menuju display baju buat pilih-pilih. Setelah ada yang cocok aku bilang ke adit yang sedari tadi mengamati lekuk tubuhku. Aku berniat mencoba baju ini karena postur keponakanku g jauh dari aku.

“Dit aku boleh coba bajunya g ?”, tanyaku yang membuat adit kaget. “Bbbboleh ci….”, jawabnya. Akupun menuju kamar pas yang cuma merupakan ujung ruangan yang ada tirainya.

Sengaja aku g tutp tirai dengan sempurna, jadi dari meja kasir adit bisa menatapku. bahkan tak hanya dari belakang, badanku dari depan pun nampak dari pantulan cermin. Aku cuek saja….

“Dit……..”, aku memangilnya. “Mmmmmm… tolong lepasin kancing Bra ku dunk yang belakang”, godaku. Diapun menuju kamar pas dan langsung menyetuh punggungku. “Kok dilepas c ? “, tanyanya polos. ” Aku mau coba bajunya biar keliatan natural”, Jawabku. Ketika telapak tanganya menyentuh punggungku terasa dingin banget. Takut, terangsang, horny, g tau mesti ngapain… mungkin itu yang dipikiranya.

Adit g beranjak pergi meskipun dah selesai membantuku melepas bra. Akupun sengaja g menyuruhnya pergi. Aku mencopot braku dan sengaja meremas-remas kecil tetekku. Ahhhhh…. aku sedikit mendesah. Kulirik adit nampak sangat ngos.ngosan…. nafasnya memburu penuh nafsu. Mungkin dia sudah pengen ngent*tin aku tapi takut.

Akupun memakai pakaian yang tadi kupilih agak sempit… adit pun membantuku memakainya… sesekali mecuri-curi meraba tetekku…. mmmmm…. akupun sedikit bereaksi membuatnya tambah horny…

“Cc g malu ?”, tanyanya polos. “G lah… adit ini bukan siapa2, lagian kan dah sering liat kakak pake bikini waktu renang ditempatmu kan”, jawabku santai.

“Dit kamu horny ya ?”, tanyaku polos dengan muka menggoda. “Iiiya nih….”, jawabnya…

“Ya dah kalo mau ngocok…., g papa… kok aku “,kataku…

Adit pun mengelurakan tongkolnya yang lumayan.. dan mulai mengocok tongkolnya. Akupun mulai merasa horny dan meraba tetek dan memiawku sendiri. Ahhhh…. gila…. tongkolnya kuat bgt kayaknya. Akupun merasa kasian melihatnya g keluar-keluar. Akupun menaikkan baju yang aku pakai sampai tetekku keliatan. Dia mulai tambah bergairah. Matanya mengisyaratkan minta ijin untuk meremas tetekku. Akupun mengangguk saja.

Dia mulai meremas kasar tetetkku… Akupun bersandar sambil meraba memiawku sendiri dan. aaaaaaaaaaaacccccccchhhhhh………………. aaaaaaaaaaaacccccccchhhhhh………………. aaaaaaaaaaaacccccccchhhhhh……………… akupun keluar….. g lama kemudian tongkol adit menyemprotkan cairan dan mengenai kakiku.

Dia tersungkur lemas. “Makasih c…..”, ucapnya terbata. Akupun hanya bisa menggangguk. Kami baru sadar ternyata pintu distro g terkunci. Coba kalo ada orang masuk kan gawat. Setelah bayar akupun pulang. Aku sengaja meninggalkan CD ku yang basah cairanku untuknya. Dan berjanji suatu saat adit boleh liat memiawku.:
Baca Selengkapnya..

Mbak Sukro

18.57 by juliastuti.blogspot.com 5 komentar
Mbah Sukro adalah dukun sakti yang tinggal di desa pedalaman di lereng gunung di pulau Jawa. Usianya diatas 60 tahun. Badannya kurus, namun masih sehat. Ia adalah dukun sakti yang menguasai dunia perdukunan sehingga tidak ada yang berani melawannya. Ia termasuk dukun yang kaya raya karena ia tak segan-segan mematok harga tinggi bagi para kliennya. Uang bukanlah pantangan baginya. Yang menjadi pantangan saat ia belajar ilmu saktinya adalah ia sama sekali tidak boleh berhubungan intim dengan wanita. Apabila melanggarnya, maka kesaktiannya akan hilang seharian sampai matahari terbenam hari berikutnya. Oleh karena banyak dukun-dukun saingannya yang iri akan kesaktiannya, tentu adalah hal yang riskan apabila kesaktiannya hilang walau hanya sehari. Apabila saat itu ada dukun iseng yang menyantetnya, ia sama sekali tidak ada pertahanan diri. Untuk menghindari hal itu, telah bertahun-tahun ia tidak pernah berhubungan intim dengan wanita termasuk kedua istrinya. Dengan demikian ia akan selalu menjadi orang sakti yang tak terkalahkan.


Salah satu klien utama Mbak Sukro adalah Pak Wijaya, seorang pengusaha yang belakangan ini namanya semakin membumbung tinggi. Sejak ditangani oleh Mbah Sukro, hampir seluruh bisnisnya selalu lancar.

Namun pada suatu ketika, dua kali berturut-turut ia kalah tender. Oleh karena itu ia pergi ke desa Mbah Sukro untuk berkonsultasi dengannya. Berdasarkan ‘penglihatan’ Mbah Sukro, ternyata ia dijegal oleh salah satu pesaingnya yang menggunakan jasa dukun sakti dari luar pulau. Dan pengaruh negatif dari dukun tersebut rupanya telah memasuki dalam rumah Pak Wijaya, sehingga hal itu mempengaruhi performance dirinya maupun orang lain yang tinggal secara tetap di dalam rumah tersebut.

Untuk mengatasinya, menurut Mbah Sukro, harus dipasang jimat menurut delapan arah mata angin di dalam area rumah Pak Wijaya. Jimat itu harus dipasang sehari satu setiap jam 4 pagi dengan disembahyangi sepanjang hari sampai matahari terbenam.

Untuk keperluan itu, maka Pak Wijaya mengajak Mbah Sukro untuk datang dan menginap di rumahnya selama 8 hari untuk memasang ke-delapan jimat itu. Oleh karena tugas ini cukup berat dan sangat menguras tenaga, Pak Wijaya berjanji akan memberi imbalan yang sangat besar dan ia memberi uang muka sebesar 50% di depan.

Selain memasang jimat, Pak Wijaya juga meminta Mbah Sukro untuk membimbing putrinya, A-mei yang masih SMU dan baru berusia 17 tahun. Karena belakangan ini ia merasakan putrinya telah berani melawannya apalagi tanpa sepengetahuannya telah berpacaran dengan teman sekelasnya. Bisa jadi hal ini disebabkan pengaruh negatif di dalam rumah itu, pikirnya.

Sehingga kini Mbah Sukro tinggal di rumah Pak Wijaya selama delapan malam. Pagi, siang, dan sore hari digunakan untuk memasang dan menyembahyangi jimat. Sementara malamnya ia meluangkan waktu beberapa jam untuk mengajar olah pernapasan bagi A-mei untuk menghilangkan pengaruh negatif dari dalam dirinya. Dan hal itu dilakukan berdua di dalam kamar A-mei. Pak Wijaya membolehkan hal itu karena ia tahu pasti akan pantangan Mbah Sukro menyentuh wanita. Sehingga keamanan diri putrinya akan tetap terjamin.

Sementara itu, proses pemasangan jimat itu berlangsung lancar sampai hari terakhir. Sehingga kini lengkaplah sudah seluruh persyaratan jimat sebagai pelindung rumahnya beserta seisinya yang bakal mampu bertahan selama bertahun-tahun.

Petang itu sehabis matahari terbenam…
Mbah Sukro mengatakan kepada Pak Wijaya kalau seluruh jimatnya telah terpasang dengan rapi. Sehingga ia minta supaya sisa pembayarannya dapat segera dilunasi. Namun rupanya terdapat kesalahpahaman diantara keduanya. Karena Pak Wijaya berpendapat sisa pembayarannya akan dilunasi dalam waktu dua bulan yaitu setelah pengumuman keputusan pemenang tender proyek berikutnya. Hal itu untuk membuktikan bahwa jimat yang dipasang memang telah benar-benar bekerja.

Sementara Mbah Sukro menganggap bahwa sisa pembayaran harus dilunasi begitu pemasangan jimat telah selesai. Mendengar pendapat Pak Wijaya, ia merasa ditipu oleh kliennya itu. Padahal ia telah mencurahkan seluruh energinya untuk membuat jimat itu benar-benar bekerja.

Oleh karena ia adalah orang desa yang tidak biasanya beradu mulut dan mungkin ditambah karena Pak Wijaya adalah salah satu klien besar, maka akhirnya dengan terpaksa ia mengalah. Namun di dalam hati ia merasa sakit hati. Dan diam-diam ia berniat membalas dendam kepada kliennya itu. Ia tidak mungkin membatalkan jimat yang telah dipasang oleh dirinya sendiri itu. Oleh karena itu ia akan mengambil sisa bayarannya itu dengan caranya sendiri sekaligus membalas dendam, dengan menggunakan A-mei, puterinya. Tentu bukanlah hal sulit baginya untuk membuat A-mei takluk kepadanya.

Karena Mbah Sukro akhirnya setuju dengan pendiriannya, maka Pak Wijaya sama sekali tak menaruh curiga kepadanya. Sehingga Mbah Sukro bisa melakukan menurut apa maunya dengan bebasnya.

Sementara bagi A-mei sendiri, yang di hari pertama mula-mula merasa aneh disuruh Papanya belajar pernapasan, namun setelah melakukannya ia merasakan manfaat dari pernapasan yang diajarkan oleh Mbah Sukro. Oleh karena itu ia mau meneruskan setiap hari sampai hari itu, hari kedelapan.

Malam itu ketika proses pengajaran normal telah berakhir, mereka berbincang-bincang,
“Ternyata pernapasan begini ada manfaatnya juga ya Mbah. A-mei sekarang jadi lebih tenang dibanding sebelumnya.”
“Memang betul, Nik. Tapi sebenarnya ada cara lain yang bisa membuat pikiran jadi lebih nyaman lagi.”
“Gimana caranya Mbah?”
“Prinsipnya kamu harus menghilangkan prasangka buruk di dalam pikiranmu sampai kamu tidak merasakan adanya ancaman bahaya dari luar. Dengan begitu maka pikiran otomatis akan menjadi tenang.”
“Wah susah sekali itu Mbah, gimana caranya menghilangkan prasangka buruk di dalam pikiran karena datangnya tiba-tiba?”
“Ya harus latihan Nik. Namun latihannya tidak mudah dan tidak cocok untuk gadis muda seusia kamu. Karena itu, lupakan sajalah.”
“Lho kok begitu, Mbah? Khan Mbah sendiri yang bilang kalau pikiran yang tenang dan nyaman itu bagus buat semua orang nggak peduli usia.”
“Karena untuk latihan ini, kamu harus menghilangkan semua prasangka buruk. Dan hal itu tidak mungkin karena saat ini pun tanpa disadari kamu telah punya prasangka buruk terhadap Mbah.”
“Ah, aku sama sekali nggak punya pikiran buruk kok terhadap Mbah.”

“Ah, masa? Kalau begitu, coba sekarang berani nggak kamu buka seluruh baju kamu di depan Mbah.”
“Ah, Mbah yang benar aja!” protes A-mei sambil matanya melirik ke arah pintu keluar.
“Nah, itulah. Sekarang kamu punya pikiran takut khan terhadap Mbah? Sebenarnya kenapa sekarang kamu memakai pakaian? Karena kamu malu dilihat telanjang bulat oleh Mbah. Padahal kalau pikiranmu tulus, kamu tidak akan mempunyai pikiran seperti itu.”
“Tapi kenapa harus sampai buka baju segala, Mbah?”
“Karena itu adalah cara latihan yang paling praktis dan efisien untuk menghilangkan perasaan malu dan waswas yang timbul. Tapi sudahlah, lupakan saja. Makanya tadi Mbah bilang kalau latihan ini tidak cocok untuk anak gadis apalagi yang masih muda seperti kamu.”
“Ooh, jadi begitu toh. Terus kalau A-mei mau coba sedikit dan sebentar aja, gimana Mbah?” tanya A-mei penasaran.
“Ini bukan untuk coba-coba. Kalau kamu pengin latihan, kamu harus betul-betul manut (nurut) dengan Mbah tanpa prasangka apa-apa. Kalau tidak, mending tidak usah.”

Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya…
“OK deh, aku mau jalanin Mbah. Asalkan Mbah betul-betul tidak punya maksud jahat.”
“Tidak bisa seperti itu. Kamu harus 100% percaya sama Mbah dulu baru bisa latihan.”
“Hmmm. OK, OK, aku percaya sama Mbah. Dengan cara Mbah ngomong seperti ini, aku percaya Mbah nggak punya tujuan jahat. Apalagi khan, hihihi, Mbah juga sudah tua,” katanya sambil tersenyum geli sendiri.
(Dalam hati Mbah Sukro memaki, sialan bocah ini. Rupanya ia meragukan kemampuanku. Rasain kau nanti, batinnya).

“Jadi kamu benar-benar mau latihan dan ini adalah kemauanmu sendiri ya?”
“Iya, Mbah. Aku mau coba latihan ini. Beneran!”
“Baiklah, sekarang coba kamu berlatih napas seperti biasa tanpa perlu memejamkam mata,” kata Mbah Sukro sambil berjalan mengelilingi A-mei.

A-mei saat itu mengenakan baju kaus biru tua dengan krah dan celana pendek yang ukurannya sedikit diatas paha. Ia adalah seorang gadis yang cantik. Rambutnya panjangnya sebahu. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Usianya masih belia, baru 17 tahun, namun tubuhnya telah tumbuh menjadi tubuh seorang gadis dewasa. Baju biru yang dikenakannya itu nampak menonjol di bagian dadanya. Pertanda payudaranya telah tumbuh. Seandainya bukan Mbah Sukro yang punya pantangan, cowok mana pun pasti akan tergiur kecantikan dan ke-sexy-annya.

“Omong2, kamu sudah punya pacar, Nik?”
“Sudah Mbah.”
“Kamu sudah pernah ngapain saja dengan dia?”
“Maksud Mbah?”
“Maksudnya, sejauh mana hubungan kamu dengan dia? Apakah kamu pernah tidur dengan dia?”
“Idih, Mbah. Ya nggak dong. Kok Mbah jadi nanya yang nggak-nggak sih?”
“Mbah sengaja nanya hal-hal seperti ini, untuk pemanasan latihan kamu. Untuk itu sejak sekarang kamu nggak boleh punya pikiran jelek, mengerti?
“OK, Mbah. Aku mengerti.”
“Jadi, kamu pernah ngapain aja dengan dia?”
“Cuman ciuman dan peluk-pelukan aja Mbah. Sambil saling pegang-pegang juga,” kata A-mei dan mukanya bersemu kemerahan.
“Kalo pipimu kemerahan gitu, kamu jadi makin cantik saja, Nik. Cuman gitu aja? Jadi kamu masih perawan?”
“Iya Mbah.”
“Bagus, bagus. Lalu apakah dia pernah ngeliat kamu nggak pake baju?”
“Iiih, Mbah. Ya nggak dong”, katanya sementara mukanya makin merah.
“Ingat, kamu harus membuang pikiran kotor kamu.
“Baik, Mbah.”
“Bagus. Sekarang apakah kamu siap untuk memasuki tahap latihan yang lebih tinggi?”
“Siap Mbah.”
“Bagus. Kalo begitu sekarang ayo coba kamu buka baju kaus kamu.”
Tanpa protes A-mei segera melepas dua kancing baju kausnya sendiri. Lalu dicopotnya baju yang dikenakannya dan dibuang ke lantai.

Nampak kulit tubuh putih A-mei dengan gundukan kecil di dada yang tertutup oleh bra hijau muda.
“Wah, Nik, tubuhmu betul-betul putih mulus,” kata Mbah Sukro sambil matanya tak lepas memandangi A-mei. Baru pertama kali ini ia melihat tubuh gadis yang seputih ini. Apalagi sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat tubuh perempuan yang telanjang.
“Sekarang coba kamu lepas penutup dada kamu. Mbah pengin lihat seperti apa isinya.”

Dengan patuh A-mei membuka branya sehingga kini ia berdiri di hadapan Mbah Sukro dengan dadanya telanjang. Nampak payudaranya yang kecil tapi indah dan putingnya berwarna kemerahan.
“Wow! Dadamu indah sekali. Kamu sungguh beruntung.”
“Sekarang coba lepas rokmu, Nik,” perintah Mbah Sukro yang dengan patuh dipenuhi oleh A-mei. Dilepasnya rok yang melekat di tubuhnya sehingga kini ia hanya memakai celana dalam saja.
“Waduuh, mulusnya tubuh kamu Nik. Betul-betul pemandangan yang indah,” kata Mbah Sukro kagum sambil memandangi pahanya dan payudaranya. Sehingga mau tak mau A-mei jadi makin memerah mukanya. Namun karena ia memutuskan untuk latihan, maka ia berusaha menahan perasaan malunya.
“Bagaimana perasaan kamu sekarang, Nik? Kamu malu telanjang di depan Mbah?”
“Se-sebenarnya malu sekali Mbah.”
“Nah, itulah. Terbukti kalau kamu masih perlu latihan lebih lanjut lagi. Sebenarnya kamu nggak perlu malu. Soalnya tubuh kamu indah sekali kok Nik. Jadi sekarang berani nggak kamu betul-betul telanjang bulat disini?” kata Mbah Sukro.

A-mei nampak ragu.
“Masa perlu sampai semuanya, Mbah?”
“Kalau kamu pengin latihannya sempurna ya harus. Apalagi terbukti sekarang kamu masih belum berhasil menghilangkan perasaan malu. Mumpung Mbah masih disini. Hari ini adalah hari terakhir Mbah disini. Besok kalau kamu pengin latihan sudah tidak bisa lagi. Masa kamu mau latihan seperti ini dengan sembarang orang?”
“Hmmmh, OK, kalo gitu A-mei nurut aja deh.”
Dan tak lama kemudian segera dilepasnya cd yang dipakainya dengan sukarela.
Kini ia betul-betul telanjang bulat tanpa selembar benang pun di hadapan Mbah Sukro.

Mbah Sukro nampak memandangi tubuh telanjang A-mei dari atas ke bawah.
“Wow. Ckckck. Suiit, suiiit. Hebat, hebat. Benar-benar aduhai indahnya tubuhmu, Nik.” Mbah Sukro jadi ngaceng juga melihat A-mei yang telanjang bulat. Hmm, sayang sekali aku tak bisa menikmati tubuhmu, batinnya. Namun tak apalah, yang penting aku sudah memberi pelajaran kepada Wijaya, papamu yang penipu itu. Biar tahu rasa kau sekarang, puterimu yang masih perawan berhasil kutipu mentah-mentah. Lumayan aku bisa cuci mata ngeliat anak gadismu telanjang bulat. Sungguh ini adalah pembalasan yang setimpal.

Namun rupanya ia tidak ingin berhenti sampai disitu saja. Dalam hati ia berpikir, biarlah kupinjam dulu anak gadismu untuk kumain-mainin bentar, pikirnya.

“Cowok kamu pernah lihat susu kamu?”
“Pernah mbah.”
“Tadi katanya belum pernah. Awas kalo kamu bohong ya?”
“Bukan gitu Mbah. Maksudku tadi aku belum pernah telanjang bulat seluruh badan gini dengan dia.”
“OK, nggak apa-apa. Lalu reaksi dia gimana waktu ngeliat susu kamu?”
“Dia suka Mbah…dia pernah megang-megang juga. Katanya dadaku bagus.”
“Oh ya? Dia megangnya gimana? Apa begini?” tanya Mbah Sukro sambil kedua tangannya menempel ke kedua payudara A-mei.
“Iih, Mbah. Jangan Mbah,” kata A-mei sambil secara refleks bergerak mundur.
“Lho, kenapa. Ayo jawab. Ingat kamu tidak boleh punya pikiran kotor. Mengerti?, kata Mbah Sukro sementara kedua tangannya masih menempel ke dada A-mei.
“Me-mengerti Mbah.”
“Jadi gimana caranya memegang susu kamu? Apakah begini?”, katanya sambil tangannya dilepaskan dari dada A-mei sebentar lalu diremasnya kedua payudara A-mei.
“Atau begini?” kata Mbah Sukro, sambil kedua ibu jarinya meraba-raba dan menggerak-gerakkan kedua putingnya.
“Ya..ya..ya semuanya Mbah,” kata A-mei tertunduk malu.
“Huahahaha. Wah, cowok kamu memang beruntung dan pintar cari pacar.”
“Lalu kamu suka digituin sama cowok kamu?”
“Suka Mbah.”
“Sama seperti sekarang, kamu juga suka Mbah begini-in?” katanya sambil meraba-rabai seluruh bagian payudara A-mei.
“Ehmm… suka Mbah.”
“Bagus. Itu wajar karena itu tandanya kamu gadis yang sudah dewasa.”
Ia memperhatikan dan merasakan kedua puting A-mei kini semakin mengeras dan menonjol dibanding pertama kali telanjang. Mungkin karena suhu kamar yang agak sejuk atau mungkin karena tegang dengan suasana itu.

“Umurmu berapa sih Nik?”
“Tujuh belas tahun. Aku baru ulang tahun 4 bulan lalu.”
“Jadi memang kamu sudah jadi gadis dewasa. Kamu ibarat bunga yang baru mekar dan harum semerbak yang sudah siap dihisap madunya, Nik. Kamu sudah siap untuk kawin, Nik.”
“Iiih. Aku khan baru umur 17 tahun. Masih lama untuk married, Mbah.”
“Ah, nggak betul itu. Istri pertama Mbah waktu menikah sama Mbah dulu juga seumuran kamu, Nik, 17 tahun juga..”
“Oh ya? Kapan itu Mbah?”
“Wah, itu sudah lama sekali. Dulu waktu dia masih muda dan cantik. Sekarang istri Mbah sudah tidak muda lagi, sudah 40 tahun lebih. Tapi meskipun dulu waktu dia masih muda juga nggak bisa ngalahin kamu, Nik. Kamu jauh lebih cantik dan lebih putih dari dia. Ya memang beda lah, gadis desa dibandingkan dengan anak gadis pengusaha kaya di kota besar. Tapi jeleknya orang kota itu suka kawin telat. Padahal itu tidak bagus untuk hormon tubuh. Terutama cewek. Apalagi kawin itu sebenarnya enak lho.”
“Memang enaknya apa sih Mbah?”
“Enaknya apa, itu mesti dirasakan sendiri baru tahu, Nik. Dan untuk orang kota yang kawin telat seperti kamu gini, perlu ada persiapan lahir batin dari sekarang. Supaya nantinya tidak kagok dan bisa membahagiakan suami sejak malam pertama perkawinan.”
“Persiapannya apa aja sih Mbah?”
“Persiapannya seperti apa susah diungkapkan dengan perkataan. Lebih jelas kalau dilakukan langsung. Mbah bisa ngajarin kamu sekarang. Asalkan pikiran kamu tenang dan ikhlas karena ini semua demi membahagiakan suami kamu kelak. Gimana, mau nggak?”
“Ehhm, tapi aku nggak tahu mesti gimana, Mbah?”
“Nggak usah kuatir, Nik. Kamu manut aja sama Mbah, nanti khan kamu jadi bisa sendiri,” katanya sambil penuh nafsu memandangi sekujur tubuh A-mei yang telanjang,” Yuk, sekarang kamu lanjutkan latihan ini dulu, setelah itu kamu Mbah ajari yang itu,” katanya.

Sebenarnya awalnya Mbah Sukro hanya ingin membalas dendam dengan mempermainkan A-mei dengan cara menyuruhnya telanjang bulat di depannya saja. Namun kini setelah melihat cewek ini telanjang bulat dan begitu penurut begini, Mbah Sukro jadi bernafsu ingin menikmati tubuh perawannya. Apalagi sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menikmati seorang wanita, itupun juga dengan kedua istrinya yang sudah tidak muda lagi. Kini di depan matanya ada seorang gadis perawan yang bersikap sangat kooperatif terhadapnya. Ditambah lagi ia tak pernah menikmati gadis kota seperti A-mei gini. Sekaligus ini adalah pembalasan yang telak terhadap papanya. Namun yang menjadi kendalanya adalah ia tidak mungkin melanggar pantangannya sendiri. Karena salah-salah taruhannya adalah nyawanya.

Ah, sungguh bodoh kau ini, batin Mbah Sukro. Kenapa mesti takut kehilangan kesaktianmu barang sehari? Bukankah kau ada di dalam rumah yang telah dilindungi oleh jimat yang kaupasang sendiri? Biarpun kesaktianmu hilang, asalkan kau tidak keluar rumah sampai matahari terbenam besok, semuanya akan baik-baik saja. Dan kau bisa meninggalkan rumah ini setelah matahari terbenam.

Sekaligus hal ini membuktikan bahwa apabila tidak ada serangan yang mampu mengenai dirinya, hal itu menandakan kalau jimat yang dipasangnya betul-betul bekerja. Hehehe, rasain kau, Wijaya. Salahmu sendiri kamu meragukan jimatku. Kini anak gadismu yang akan kupake untuk membuktikan apakah jimat itu betul-betul bekerja. Lumayan juga bisa menikmati anak perawanmu yang manis ini.

Setelah teringat akan kesaktian jimatnya sekaligus cara untuk membalas perlakuan kliennya itu, kini nafsu birahinya jadi benar-benar tak terbendung lagi, yang harus dilampiaskan saat itu juga.
“Waduuh, mulusnya kamu Nik. Sampai-sampai kamu bikin Mbah jadi ngaceng. Apalagi baru kali ini Mbah lihat Nonik seperti kamu gini telanjang. Betul-betul putih dan merangsang.

“Nah gitu, bagus. Pikiran kamu tetap tenang ya,” kata Mbah Sukro mengelilingi A-mei memandangi sekujur tubuh telanjangnya dalam jarak dekat. Saat berada di belakang A-mei, kedua tangannya meraba-raba punggungnya yang putih mulus dari atas sampai ke bawah dan diremas-remasnya pantat A-mei yang bulat sexy itu.
“Hmm, kulitmu halus dan mulus banget, Nik.”
Lalu tangannya beralih ke depan, kini meraba-rabai payudara A-mei.
“Waah, susumu betul-betul kenyal Nik. Dan putih mulus. Lihat tuh, Iiiih, puting kamu segar banget dan menonjol gini,” komentar Mbah Sukro dan kedua telunjuknya digesekkan di kedua puting A-mei.
“Aduuh. Jangan gitu Mbah. Geli,” kata A-mei sambil tubuhnya menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Mbah Sukro.
“Aah, masa cuma diginiin aja kok geli. Tapi gimana rasanya, Nik? Enak khan?”
“Nggak mau ah Mbah, kalo gini,” kata A-mei. Namun “protesnya” cuman di mulut saja karena ia membiarkan Mbah Sukro jari jemari dukun tua itu meraba-raba dadanya. Kelihatan kalau sebenarnya ia menikmati permainan itu.

“Nah, sekarang kita lanjutkan latihan tingkat berikutnya sekaligus Mbah ajarin kamu gimana caranya membahagiakan suamimu kelak. Ingat, ini semua demi kebaikan kamu sendiri. Mengerti?”
“Mengerti, Mbah.”
“Bagus. Nah, sekarang Mbah juga melepas semua baju Mbah jadi kita sama-sama bugil.”

Mbah Sukro melepas baju hitamnya sehingga nampak dadanya yang hitam telanjang. Kulitnya telah berkeriput. Kemudian ia membuka sarungnya. Nampak tonjolan di balik celana dalamnya.
“Supaya kamu tidak penasaran, ini Mbah tunjukkan tongkol pria dewasa milik Mbah yang bisa memuaskan anak gadis seperti kamu, Nik.”

Tanpa malu-malu lagi, bandot tua umur 60 tahun itu melepas celana dalamnya di depan A-mei, gadis belia berumur 17 tahun. Kini Mbah Sukro juga telah telanjang bulat. Nampak kulit tubuhnya yang hitam legam dan keriput. Sungguh kontras berbeda dengan A-mei yang putih mulus dan segar. Namun A-mei tersipu malu dibuatnya, karena meski telah berumur 60-an dan kulitnya telah keriput, namun tongkol Mbah Sukro masih mampu ngaceng dengan tegaknya. Apalagi ukurannya termasuk besar dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus, terutama kepalanya yang disunat jadi nampak makin besar.

“Nah, lihat, ****** Mbah sekarang jadi ngaceng gara-gara ngeliat gadis muda belia telanjang bulat. Karena Mbah jadi terangsang karena kemulusan tubuhmu, A-mei, dan juga karena kecantikan wajahmu, keindahan susumu, kulitmu yang putih halus, pahamu, rambut kemaluanmu, dan daya tarik seksualmu secara keseluruhan yang membuat orang laki normal jadi ingin menikmati dirimu. Apalagi Mbah sebelumnya nggak pernah mencicipi nonik-nonik seperti kamu gini. Jadi, beginilah suamimu nanti, juga akan terangsang terhadap kamu sama seperti Mbah sekarang. Dan untuk itu kamu harus bisa melayani suamimu dengan sebaik mungkin, bikin dia puas. Dengan begitu, kamu juga akan mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Nah, supaya nantinya kamu tidak canggung dengan suami kamu, mari sekarang kamu latihan dulu dengan Mbah.”

Lalu didekapnya A-mei dan diciumi wajahnya dengan penuh nafsu. Dijelajahi wajah gadis belia nan cantik itu dengan bibirnya. Dilumatnya bibir A-mei dengan ganas. Diciuminya lehernya sambil tangannya meraba-raba payudara A-mei dan meremas-remasnya. tongkolnya yang hitam dan berdiri tegak itu menempel di tubuh putih A-mei.

A-mei didorongnya ke arah tempat tidurnya lalu ditidurkannya ia dengan telentang di atas kasur. Ia sengaja membuka kaki A-mei lebar-lebar supaya ia bisa melihat dengan jelas vagina A-mei yang masih perawan itu. Vaginanya berwarna kemerahan. Sementara diatasnya nampak rambut-rambut kemaluannya yang halus tumbuh di atas kulitnya yang putih. Klitorisnya nampak mencuat di bagian atas liang vaginanya.

Digarapnya gadis belia yang masih perawan itu oleh si bandot tua. Diciuminya kedua payudara A-mei. Mukanya dibenamkan ke dua bukit kembar itu. Mulutnya aktif menjilati seluruh bagian payudara perawan itu. Terutama kedua putingnya yang diemut dan dikenyot-kenyot di dalam mulutnya. A-mei merasakan kedua putingnya bergantian dikenyot-kenyot di dalam mulut Mbah Sukro yang hangat. Apalagi suhu ruangan yang ber-AC awalnya membuatnya agak kedinginan. Kini kecupan-kecupan hangat Mbah Sukro mampu menghangatkan tubuhnya terutama dadanya.

Meskipun usianya telah kepala enam, namun rupanya Mbah Sukro tahu bagaimana caranya membuat panas seorang dara perawan belasan tahun. Terbukti A-mei sangat menikmati permainan lidah dan kenyotan Mbah Sukro diatas payudaranya. Apalagi Sukronya yang lebat menggelitik payudaranya yang membuatnya makin terangsang. Tanpa sadar, ia mendesah-desah dibuatnya.
“Ehhhmm, ehhmmm, ooohhh, oooohhhhh.”
Suara desahannya itu bercampur dengan suara kecupan Mbah Sukro yang asyik menciumi payudara A-mei.

Mbah Sukro menyuruh A-mei berbalik telungkup. Rambutnya yang sebahu menempel di punggungnya yang putih mulus. Pantatnya nampak sexy menonjol. Segera diciuminya sekujur punggung dan pantat A-mei yang putih. Kembali Sukronya menggelitik sekujur punggung A-mei.

Lalu diraba-raba kedua pantat A-mei dan diremas-remasnya pantat nan sexy itu. Didudukinya punggung A-mei dan tongkolnya yang hitam ditempelkan di punggung A-mei yang putih. Nampak kontras perbedaan warnanya. Digesek-gesekkan batang tongkolnya berikut kedua pelirnya di sekujur punggung putih A-mei. Bagaikan kuas hitam yang menyapu seluruh bagian kanvas putih. Sementara tongkol Mbah Sukro telah mulai basah karena cairan pre-cum. Sehingga di beberapa tempat, punggung A-mei menjadi sedikit basah terkena gesekannya.

Digesek-gesekkan batang tongkolnya ke pantat A-mei. Lalu dijepitnya diantara kedua pantat A-mei dan digesek-gesekkannya. Sehingga ujung ****** Mbah Sukro jadi semakin basah yang membuat pantat A-mei menjadi ikutan basah.

Setelah puas bermain-main di punggungnya, kembali A-mei ditelentangkan. Kedua kaki A-mei dibukanya lebar-lebar. Lalu kepalanya menyusup diantara kedua paha mulus A-mei. Dijilatinya vagina perawan A-mei yang kemerahan itu. Dan setelah itu diemut-emut dan dihisap-hisap vagina perawan itu. Lidahnya nampak begitu lincah menari-nari di sekitar wilayah terlarang milik dara muda itu. Sehingga tanpa dicegah lagi vaginanya menjadi basah dibuatnya, membuat A-mei mendesah-desah karena kenikmatan yang dirasakannya itu.

“Nah, sekarang coba kamu genggam dengan tangan kamu, Nik”, kata Mbah Sukro menyuruh A-mei memegang batang tongkolnya. Yang segera dilakukannya tanpa protes.
“Bagus, nah sekarang coba kamu kocok pelan-pelan.”
“Ya, bagus begitu. Lakukan terus, jangan berhenti dulu,” kata Mbah Sukro menikmati ****** hitamnya dikocok oleh tangan halus milik gadis putih mulus itu. Sementara kedua tangannya memegang-megang payudara cewek itu. Kedua putingnya nampak makin mengeras dan memanjang. Sehingga membuat Mbah Sukro meraba-raba puting segar kemerahan milik dara perawan itu dengan kedua ibu jarinya yang hitam. Nampak ia sangat bernafsu sekali dengan kedua payudara A-mei sampai-sampai ia menciuminya dengan liar. Dijulurkannya lidahnya kesana kemari di dada dara ini. Terutama di kedua putingnya karena ia tahu bahwa bagian ini adalah bagian sensitif buat cewek ini.

Lalu ditelentangkannya A-mei dan ditindihnya dara yang putih mulus itu dengan tubuhnya yang hitam dan kulitnya telah keriput. Diciuminya bibir dan leher dara itu dengan penuh nafsu. Dadanya yang hitam dan keriputan menempel di payudara cewek muda itu. Meski usianya telah tua, namun ia nampak masih perkasa saja. Batang tongkolnya masih mengeras dengan gagahnya menempel di dekat vagina cewek itu.

Setelah puas menciumi A-mei, kini saatnya ia menikmati ‘hadiah utamanya’. Ia membuka kedua paha A-mei lebar-lebar. Sementara batang tongkolnya yang hitam dan berurat itu menegang dengan keras. Didekatkannya kepala penisnya yang membesar itu ke depan liang vagina perawan itu, yang saat itu nampak pasrah dan tanpa perlawanan sama sekali. Lalu segera didorongnya tubuhnya ke depan, dan, ugh dinding vagina perawan itu rupanya mampu menahan daya laju benda tumpul itu.
Mbah Sukro mencobanya lagi dengan lebih bertenaga, dan akhirnya,
“Cleeeep”,
kepala penisnya akhirnya berhasil masuk ke dalam tubuh dara yang kini sudah menjadi tidak perawan lagi itu.
“Aaahhhhhh”, seketika A-mei menjerit karena rasa nyeri saat kepala penis Mbah Sukro masuk ke dalam tubuhnya.
Lalu didorongnya tubuhnya sehingga seluruh penisnya amblas masuk ke dalam tubuh gadis yang kini tentunya sudah bukan gadis lagi itu.
“AAAhhhhhh,” A-mei kembali menjerit merasakan perih di vaginanya.

Namun Mbah Sukro tidak mempedulikan jeritan gadis itu. Pikirannya telah dipenuhi nafsu ingin menikmati tubuh gadis muda itu selama dan semaksimal mungkin. Segera dimaju-mundurkan penisnya di dalam tubuh gadis itu, menikmati rapatnya gesekan vaginanya.
“Ahhhh, aaahhhh, aaahhhhhh, aaahhhhhh,” A-mei mendesah-desah dibuatnya. Rasa nyeri dan perih yang mula-mula dirasakannya kini menjadi bercampur dengan rasa enak yang tak terbayangkan sebelumnya. Rasa perih-perih enak itu membuatnya tidak mempedulikan apa-apa lagi dan tanpa dapat dicegah lagi membuatnya mendesah-desah dan merintih-rintih tak keruan. Ia tidak mempedulikan lagi bahwa pria yang menikmati tubuhnya itu sudah uzur dan keriputan. Sementara rasa perih dan nyeri itu berangsur-angsur hilang, sehingga kini hanya tinggal rasa enaknya saja. Membuatnya makin lupa diri akan tata krama sebagai seorang gadis muda yang harus menjaga kehormatan dirinya.

Sementara Mbah Sukro makin semangat menyetubuhi cewek muda putri kliennya itu. Kapan lagi aku bisa menikmati tubuh cewek muda cantik dan sexy kayak gini, pikirnya. Dan masih perawan lagi. Di desa tidak ada cewek yang kayak gini. Biarlah kesaktianku hilang sehari tak masalah. Meski sudah tua, tapi ia masih kuat untuk mengocok gadis muda itu. Penisnya dengan gagahnya mengobrak-abrik vagina cewek itu. Membuat A-mei benar-benar tak berkutik dan hanya bisa mendesah-desah menikmati apa yang dilakukan pria tua itu terhadap dirinya.

Mbah Sukro terus menyetubuhi A-mei dengan menindihnya. Sementara tongkolnya terus mengocok-ngocok vagina gadis itu, mulutnya asyik mengulum dan menghisap-hisap payudara cewek itu. Mbah Sukro yang biasa mengemut rokok kretek kini mendapat rejeki nomplok bisa mengemut susunya A-mei.

Nampak kontras sekali pemandangan itu. Tubuh pria kurus yang hitam dan keriput itu menindih tubuh gadis muda yang putih mulus. Dan tongkolnya yang hitam menembusi ke dalam tubuh gadis itu.

Lalu Mbah Sukro menyetubuhi A-mei dalam posisi doggy style. Meski tua-tua begitu, dengan gayanya seperti koboi ia sanggup juga ‘menunggang’ dan menggoyang-goyang tubuh A-mei yang lagi-lagi hanya bisa menjerit-jerit dan mendesah-desah keenakan. Kedua payudaranya bergoyang-goyang dibuatnya. Direngkuhnya payudara gadis itu dengan kedua tangannya dan diremas-remasnya sambil terus menggoyang tubuh gadis muda itu. Sementara itu, digenjotnya terus A-mei dengan tongkolnya.

Ia mengganti posisi. Ditaruhnya kedua kaki A-mei di pundaknya, lalu dimasukkannya penisnya ke dalam vagina cewek itu dan dikocoknya. Dipandanginya kedua payudara A-mei yang bergerak-gerak mengikuti gerakan penisnya itu. Akhirnya A-mei tidak tahan lagi dan ia mendapatkan orgasmenya. Itulah orgasmenya yang pertama gara-gara disetubuhi oleh seorang laki-laki.

Setelah mengetahui A-mei baru mengalami orgasme, Mbah Sukro merasa bangga juga. Bangga karena bisa menikmati kemulusan dan keperawanannya serta bangga bisa membuat gadis muda 17 tahun mengalami orgasme. Tak lama setelah itu, akhirnya ia mengalam ejakulasi juga dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam vagina A-mei.

Setelah seluruh spermanya habis, ia mencabut batang tongkolnya yang baru saja mengambil korbannya dengan memerawani A-mei, gadis belia itu. Ia tersenyum saat melihat ada bercak darah di sekitar vagina A-mei. Bangga juga ia bisa merenggut keperawanan gadis muda seperti A-mei ini sekaligus membuatnya orgasme.
“Waah, gila ternyata kamu betul-betul masih perawan ya, Nik. Nggak rugi Mbah ngasih pelajaran ke gadis cantik dan sexy seperti kamu.
“Nah, sekarang kamu sudah tahu khan gimana caranya memuaskan suamimu kelak. Dan sekarang kamu sudah mengerti gimana rasanya enaknya kawin.”
“Iya Mbah. A-mei nggak nyangka kalo rasanya begini enak.”
“Sekarang setelah “pelajaran” selesai, kamu boleh pake bajumu lagi. Nanti masuk angin. Sekarang Mbah mau tidur dulu ya. Karena “pelajaran ini”, sekarang Mbah jadi capek sekali.”
“Iya Mbah, A-mei juga capek sekali. OK, sampe ketemu besok pagi Mbah.”
“Baik. Selamat malam.”

Malam itu Mbah Sukro kehilangan kesaktiannya dan secara fisik cape sekali. Namun ia merasa aman karena terlindungi oleh jimatnya. Sementara hatinya puas. Karena akhirnya ia berhasil mengambil “sisa bayarannya” dengan memerawani dan menikmati kehangatan A-mei di ranjang sekaligus membalas sakit hatinya terhadap Pak Wijaya. Sementara A-mei pun juga tidur dengan puas karena ia merasa mendapat “pendidikan” yang berharga dari Mbah Sukro sekaligus merasakan kenikmatan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Sementara Pak Wijaya yang telah tertidur pulas sama sekali tidak tahu akan peristiwa yang terjadi malam itu.

Keesokan harinya, seperti yang direncanakan sebelumnya, setelah seharian istirahat total, Mbah Sukro meninggalkan rumah itu setelah matahari terbenam. Ia tiba di rumahnya saat hari menjelang subuh.

Sejak meninggalkan rumah itu, ia merasakan bagian ulu hatinya agak nyeri. Namun ia tidak terlalu menggubrisnya. Tapi alangkah kagetnya saat keesokan harinya, rasa nyeri itu bukannya hilang malah makin bertambah. Dan malamnya, ulu hatinya bagai ditusuk-tusuk. Sungguh ia tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi, karena kesaktiannya sebenarnya telah pulih. Apakah kini telah ada dukun lain yang lebih sakti yang menjahili dirinya? Ia sibuk memikirkan siapa orang yang berani menjahili dirinya. Sementara itu rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya ia benar-benar tak tahan lagi.

Dan beberapa hari kemudian, ada kabar heboh, yaitu Mbah Sukro, dukun sakti yang tiada tandingannya, yang disegani kawan maupun lawan, dengan tidak disangka-sangka meninggal dunia tanpa diketahui secara pasti penyebabnya. Hal ini sungguh mengejutkan terutama bagi dukun-dukun yang selama ini menjadi lawannya. Karena susungguhnya tidak ada seorang pun yang berani menjahilinya.

Lalu apa penyebab kematiannya? Ternyata kematiannya bukan disebabkan oleh para pesaingnya. Ia lupa bahwa ia telah mengaktifkan jimat pelindung yang akan menyerang balik siapa pun yang mengganggu penghuni rumah itu. Dengan menipu gadis polos seperti A-mei apalagi sampai melangkah terlalu jauh dengan merenggut kegadisannya, ia telah secara fatal mengganggu penghuni rumah itu. Sehingga jimatnya kini bekerja menyerang dirinya sendiri. Oleh karena pikirannya melulu terfokus untuk menangkal kemungkinan serangan dari pihak luar serta arogansi dirinya yang merasa sebagai orang sakti tiada tandingan dan ditambah pikirannya yang dipenuhi nafsu birahi, malam itu ia sama sekali melupakan kemungkinan serangan balik dari jimat yang dipasangnya sendiri.

Namun semuanya sudah terlambat. Ia tak dapat menangkal serangan jimat itu karena sumber kekuatannya berasal dari dirinya. Semakin ia mengerahkan tenaganya untuk menahan serangan, semakin kuat serangan jimat itu terhadap dirinya. Sementara, setelah disembahyangi selama 8 hari, kekuatan jimat itu tidak bisa dibatalkan sebelum kekuatannya akan menurun dengan sendirinya setelah beberapa tahun.

Jadi kini terbuktilah kalau jimat yang dipasang di rumah itu benar-benar ampuh. Namun ironisnya, justru pemasangnyalah yang menjadi korban pertama dan satu-satunya dari jimat tersebut.

Demikianlah nasib Mbah Sukro yang berakhir tragis. Orang sakti yang tak terkalahkan dan tak ada orang lain yang sanggup mengalahkannya, pada akhirnya jatuh karena kesalahan dirinya sendiri dan meninggal karena kesaktiannya sendiri. Dan itulah akhir lembaran hidupnya.

Sementara, ini adalah awal lembaran kehidupan baru bagi A-mei. Ia sama sekali tak terpengaruh atau tahu menahu akan dunia mistik yang terjadi di sekitar dirinya. Tapi yang jelas, kejadian malam itu sungguh telah mengubah kehidupannya. Dari semula gadis yang polos dan lugu, kini ia menjadi sangat haus untuk mendapatkan pengalaman baru yang sangat menggelorakan hati itu, lagi, lagi, dan lagi.

The End.
Baca Selengkapnya..